nasional

Gagal Pimpin DPD Demokrat, 2 Politisi Ini Pindah ke Golkar

Minggu, 29 Mei 2022 | 11:37 WIB
Dr Ilham Arief Sirajuddin (pic/tangkapan layar instagram)

TITIKTEMU.CO - Dua politisi Demokrat yang gagal dalam pemilihan ketua DPD, memilih untuk pindah ke Golkar. Keduanya yaitu Dr Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Bayu Airlangga.


Pindahnya IAS dari partai berlogo mercy itu ke Golkar karena keputusan DPP yang lebih memilih Ni'matullah untuk memimpin DPD Demokrat Sulsel. Meski IAS menang 16 suara DPC dibanding Ni'matullah yang hanya didukung 8 suara DPC pada Musda Demokrat Sulsel, Desember 2021 lalu.

IAS adalah Wali Kota Makassar periode 2004-2009 dan 2009-2014, yang biasa dipanggil Aco.
Sedang Bayu Airlangga juga mengambil keputusan untuk mundur dari Partai Demokrat karena merasa dizalimi usai Musda DPD Partai Demokrat Jatim, yang digelar 20 Januari 2022.

Baca Juga: Real Madrid Kampiun Eropa, Juara Liga Champions 14 Kali

Keputusan Bayu Airlangga itu diambil usai dirinya merasa memperoleh perlakuan yang tidak adil sehubungan dengan hasil Musda DPD Partai Demokrat Jatim yang menghasilkan Emil Dardak sebagai ketua.

Bayu Airlangga (pic/tangkapan layar twitter JatimDemokrat)

Padahal dalam Musda Demokrat Jatim tersebut, Bayu Airlangga mendapat dukungan 25 DPC Demokrat di Jatim. Sedangkan rivalnya Emil Elestianto Dardak yang juga Wakil Gubernur Jatim hanya meraih 13 dukungan DPC.

Namun, DPP Demokrat memutuskan Emil Dardak sebagai Ketua Demokrat Jatim melalui pertimbangan fit and proper test.

Baca Juga: Ebes Anto Merasa Terharu dan Bangga, Stadion Jati Diri Dipadati Fans PSIS

Ia lantas memutuskan mundur dari Partai Demokrat per hari Kamis, 21 April 2022 dan kini bergabung dengan Golkar.

IAS bahkan sempat menulis surat kepada Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), perihal keputusannya untuk pindah ke Golkar.

Berikut petikan isi surat tersebut:

Baca Juga: Sidak Puskesmas Jeruklegi Cilacap, Ganjar Temukan Bagian Bangunan Kualitasnya Buruk

Saya bertafakkur, meminta petunjuk-Nya, dan merenungi diri selama itu. Yang akhirnya menguatkan saya untuk memilih keputusan berlabuh ke Partai Golkar.
Saya tidak pungkiri, keputusan pindah ini lebih besar dikarenakan saya gagal mendapat kepercayaan tim Tiga DPP Demokrat untuk memimpin Demokrat Sulsel.

Padahal dalam benak saya, kami telah berjuang dan melakukan segala hal yang perlu dilakukan dalam upaya kembali memimpin Demokrat Sulsel lewat Musda itu. Kami telah membuktikan siap memberikan yang terbaik. Lewat program dan penyiapan fasilitas permanen untuk Partai. Segala syarat manusiawi sudah kami penuhi untuk menang. Termasuk memenangkan pemilihan di Musda lalu.

Halaman:

Tags

Terkini