Baca Juga: Minuman Herbal untuk Imun Tubuh ala dr Zaidul Akbar, Begini Cara Membuatnya
“Nantinya bisa berkembang tergantung kepada hasil riset baru yang masuk dan juga ketersediaan vaksin yang ada,'' ucap Menkes Budi.
Budi menambahkan, seluruh kombinasi ini sudah mendapatkan persetujuan dari BPOM dan rekomendasi dari ITAGI. Bahkan, menurutnya, ini sudah sesuai dengan rekomendasi WHO di mana pemberian vaksin booster dapat menggunakan vaksin yang sejenis atau homolog atau juga bisa vaksin yang berbeda atau heterolog.
Menurutnya, masing-masing negara yang melaksanakan program vaksin booster diberikan keleluasaan sesuai dengan ketersediaan vaksin dan logistik.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual di Unesa Surabaya Berlanjut, Juga Terjadi di FBS?
''Keleluasaan diberikan kepada masing-masing negara untuk bisa menerapkan program vaksin booster yang sesuai dengan kondisi ketersediaan vaksin dan logistik sesuai dengan masing-masing negara pelaksana pemberian vaksin booster,'' ujarnya.
Budi juga menerangkan, beberapa penelitian dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa vaksin booster heterolog atau vaksin booster dengan jenis kombinasi yang berbeda menunjukkan peningkatan antibodi yang relatif sama atau lebih baik dari vaksin booster homolog atau vaksin booster dengan jenis yang sama.
Masih menurut Menkes Budi, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa vaksin booster setengah dosis menunjukkan peningkatan level antibodi yang relatif sama dengan vaksin booster dosis penuh, dan memberikan dampak KIPI yang lebih ringan.
Baca Juga: Dimsum Uma Yumcha, Kuliner Kekinian di Pasar Condronegaran Yogyakarta
Dia juga menghimbau agar program vaksinasi ini diprioritaskan pada lansia dan kelompok rendan, di mana vaksinasi booster ini akan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah seperti Puskesmas, rumah sakit pemerintah, maupun rumah sakit milik pemerintah daerah.***