Maka, pada 10 Juli 1912, terbitlah surat kabar perempuan Soenting Melajoe. Susunan redaksi mulai pemred, redaktur, dan penulis semuanya perempuan.
Menjadi media pertama di Indonesia, publikasinya menginspirasi perkembangan beberapa surat kabar berpengaruh lainnya.
Selain Soenting Melayu, karya-karya jurnalistik Roehana Koeddoes tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak.
Baca Juga: Jenderal Mallaby Tewas di Sekitar Jembatan Merah, Siapa Pembunuhnya?
Juga Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia.
Pada zamannya, Reohana sedikit dari perempuan yang percaya diskriminasi terhadap perempuan adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan.
Termasuk pembatasan perempuan Indonesia untuk mendapat pendidikan. Roehana melawan ketidakadilan ini untuk perubahan nasib kaum perempuan.
Baca Juga: Jasad Para Jenderal itu Ditemukan di Sumur Tua di Lubang Buaya
Di Bukittinggi, Roehana mendirikan sekolah dengan nama “Roehana School” yang dikelolanya sendiri. Roehana School pun berkembang.
Muridnya tidak hanya dari Bukittinggi, namun juga datang dari daerah lain.
Roehana menikah dengan seorang notaris bernama. Roehana wafat di usia 87 tahun pada 17 Agustus 1972 di Jakarta.
Baca Juga: Tragedi G30S/PKI, Kisah Penculikan dan Pembunuhan 7 Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya
Sepanjang kariernya, melalui artikel-artikel yang ditulisnya, Roehana Koeddoes mendorong perempuan untuk membela kesetaraan dan melawan kolonialisme.
Roehana Koeddoes pernah dua kali diusulkan Pemprov Sumbar sebagai pahlawan nasional, terakhir pada 2018.
Presiden Jokowi menganugerahi gelar Pahlawan Nasional untuk Roehana Koeddoes pada 7 November 2019.***