TITIKTEMU.CO, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta pemerintah daerah dan masyarakat mewaspadai potensi dampak La Nina.
Langkah ini menyusul peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terkait potensi La Nina di Indonesia periode Oktober 2021- Februari 2022.
Dilansir dari laman resminya, Kepala BNPB Ganip Warsito, menyampaikan dalam lima tahun terakhir tercatat bencana hidrometeorologi paling banyak terjadi.
Baca Juga: BMKG Jawa Tengah Imbau Masyrakat Waspada Potensi Hujan Lebat
“Didominasi banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor. Kita tidak hanya berjuang melawan pandemi, tetapi juga bencana,” ujar Kepala BNPB Ganip Warsito, Minggu (31/10/2021).
Ganip mengatakan BNPB memperkuat sistim peringatan dini banjir dan longsor dalam tingkat komunitas untuk membantu pengambilan keputusan evakuasi.
Baca Juga: Antisipasi Tsunami, BMKG Luncurkan SIRITA
Hingga saat ini BNPB memasang 27 alat peringatan dini. Alat tersebut akan terus ditambah mengingat luas wilayah dan potensi bencana di Indonesia.
“Dalam waktu dekat, di beberapa wilayah aliran sungai di Jawa Timur dan jawa Tengah akan dilakukan penambahan sebanyak 7 alat.
Partisipasi dari unsur pentahelix (pemerintah, lembaga usaha, akademisi, masyarakat, dan media) penting untuk mengurangi risiko hidrometeorologi,” imbuhnya.
Baca Juga: Siap-siap! Kata BMKG, Wonogiri Mulai Alami Kekeringan Ekstrem
Ganip menjelaskan ada beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai upaya mitigasi dan pencegahan jangka pendek dalam menghadapi dampak La Nina.
Di antaranya adalah memeriksa dan memastikan kesiapan personel, alat, sarana dan prasarana pendukung lainnya.
Selain itu, pada level daerah diminta untuk menyiapkan rencana kontijensi (renkon) daerahnya masing-masing.