TITIKTEMU.CO-Asap tebal bukan cuma membuat jalanan terlihat samar. Di udara, jarak pandang yang turun drastis bisa membuat pesawat batal mendarat dan bahkan harus kembali ke bandara asal. Situasi itulah yang terjadi pada sejumlah penerbangan karhutla yang menuju beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Jakarta Air Traffic Service Control (JATSC) Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencatat sedikitnya lima gangguan penerbangan yang berkaitan dengan kondisi jarak pandang di Palembang, Jambi, dan Pontianak.
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang sedang menyelimuti sejumlah kawasan tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, kabut asap membuat jarak pandang di sekitar bandara terdampak menjadi terbatas.
Baca Juga: Aktivasi IKD Tangsel Baru 7 Persen, Apa yang Bikin Warga Masih Enggan Pindah ke Identitas Digital?
Lima Penerbangan Terdampak Asap Karhutla
Deputy GM Perencanaan dan Evaluasi Operasi JATSC Raden Triaswanto menjelaskan bahwa gangguan penerbangan terjadi dalam beberapa bentuk.
Salah satunya adalah pesawat yang seharusnya menuju Pontianak tetapi harus melakukan return to base (RTB) dan kembali ke Jakarta. Ada pula penerbangan dari Palembang yang kembali ke Jambi.
Spenerbangan tergangguementara itu, pesawat yang terbang menuju Jambi juga sempat dialihkan atau divert ke Batam. Kondisi seperti ini dilakukan ketika bandara tujuan dinilai belum memungkinkan untuk menerima penerbangan secara aman
Baca Juga: Rekening Botok Sempat Ditahan, Efeknya Bisa Menjalar ke Bank Lain? Ini yang Dikhawatirkan
Jadi, bukan pesawatnya yang tiba-tiba berubah pikiran. Kondisi di lapangan memang membuat rencana penerbangan harus disesuaikan.
Jarak Pandang Jakarta Masih Aman
Triaswanto mengatakan kondisi jarak pandang di wilayah Jakarta masih relatif baik. Visibility tercatat sekitar 7.000 hingga 8.000 meter, sehingga masih berada dalam kondisi yang dianggap aman untuk operasional penerbangan.
Situasinya berbeda dengan wilayah yang terdampak asap. Jarak pandang di Palembang, Jambi, dan Pontianak sempat berada di sekitar 1.000 meter.
Baca Juga: Anak Sopir Truk Ini Lulus dari ITB dengan IPK 3,98, Lalu Terbang ke Korea Selatan
Perbedaan tersebut cukup signifikan bagi aktivitas penerbangan. Ketika jarak pandang menurun, proses penerbangan dan pendaratan harus mempertimbangkan kondisi aktual di bandara tujuan.
JATSC Terus Pantau Visibility
JATSC tidak hanya menunggu laporan ketika pesawat sudah mendekati bandara. Data visibility di sejumlah bandara terus dipantau untuk menentukan apakah penerbangan dan pendaratan masih layak dilakukan.
Informasi tersebut kemudian menjadi pertimbangan dalam penerbitan Notice to Airmen (NOTAM). Pemberitahuan ini menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan kondisi operasional kepada maskapai.