TITIKTEMU.CO-Target aktivasi IKD Tangsel tahun ini masih harus dikejar. Dari lebih dari satu juta penduduk yang masuk kategori wajib KTP elektronik, baru sekitar 74 ribu orang yang tercatat mengaktifkan Identitas Kependudukan Digital atau IKD.
Angka tersebut setara sekitar 7 persen. Padahal, Pemerintah Kota Tangerang Selatan menargetkan cakupan aktivasi mencapai 10 persen sepanjang 2026.
Artinya, masih ada pekerjaan rumah yang cukup besar bagi Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Tangsel.
Baca Juga: Rekening Botok Sempat Ditahan, Efeknya Bisa Menjalar ke Bank Lain? Ini yang Dikhawatirkan
Aktivasi IKD Tangsel Terus Dibuka Setiap Hari
Kepala Disdukcapil Kota Tangsel Cahyadi mengatakan layanan aktivasi sebenarnya tidak berhenti pada kegiatan tertentu. Masyarakat dapat melakukan proses tersebut melalui pelayanan yang tersedia setiap hari.
Untuk menjangkau warga yang mungkin tidak sempat datang ke kantor pelayanan, Disdukcapil juga menjalankan pola pelayanan jemput bola. Salah satunya dilakukan ketika kegiatan car free day berlangsung.
Cara seperti ini diharapkan bisa membuat aktivasi IKD Tangsel terasa lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat, bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan ketika datang ke kantor pemerintahan.
Baca Juga: Download FF Kipas Tornado Apk V19.9: Module Config Booster Anti Lag 2026
Lebih dari 1,4 Juta Penduduk Tangsel
Data Disdukcapil menunjukkan jumlah penduduk Kota Tangerang Selatan mencapai sekitar 1.486.118 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.106.884 jiwa tercatat sebagai wajib KTP elektronik.
Sementara itu, warga yang sudah melakukan aktivasi IKD baru berada di kisaran 74 ribu lebih. Dengan capaian sekitar 7 persen, pemerintah masih perlu mendorong tambahan aktivasi agar target 10 persen pada akhir 2026 bisa terpenuhi.
Namun, persoalannya ternyata bukan sekadar soal membuka loket pelayanan.
Baca Juga: Anak Sopir Truk Ini Lulus dari ITB dengan IPK 3,98, Lalu Terbang ke Korea Selatan
Banyak Warga Belum Melihat Manfaat IKD
Cahyadi menyebut salah satu kendala utama adalah pemahaman masyarakat. Sebagian warga belum melihat secara jelas apa keuntungan menggunakan identitas kependudukan dalam format digital.
Bagi masyarakat yang sudah terbiasa dengan teknologi, menggunakan identitas digital mungkin terasa sederhana. Tetapi bagi mereka yang belum akrab dengan layanan berbasis aplikasi, proses aktivasi bisa terasa seperti pekerjaan tambahan.