Setelah berhasil dikeluarkan dari reruntuhan, Paulina langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan.
“Dievakuasi kemarin siang, sudah dibawa ke Puskesmas terdekat, korban selamat,” kata Bambang dalam keterangannya, Kamis, 20 Agustus 2026.
Desa Nitunglea sendiri sempat mengalami keterisolasian setelah gempa besar mengguncang wilayah Flores.
Akses menuju desa tersebut terhambat akibat material longsor berupa batu-batu besar dan pohon tumbang yang menutup jalur.
Kondisi itu membuat perjalanan menuju desa harus dilakukan dengan berjalan kaki selama kurang lebih tiga jam dari dermaga.
Pengungsi Juga Dapat Pendampingan Trauma
Selain penanganan korban luka dan evakuasi warga, aspek kesehatan mental para penyintas gempa juga menjadi perhatian aparat.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko mengatakan pendampingan psikologis atau trauma healing penting diberikan kepada para pengungsi, terutama anak-anak yang mengalami langsung bencana tersebut.
Menurutnya, dampak gempa tidak hanya berupa luka fisik. Kondisi psikologis para penyintas juga perlu mendapat perhatian agar mereka dapat melewati masa pemulihan dengan lebih baik.
“Para pengungsi ini bukan hanya fisiknya saja yang terluka, tapi ada juga kesehatan mental yang tidak boleh kita abaikan,” ujar Rudi dalam keterangannya, Selasa, 18 Agustus 2026.
“Itu yang kita atensi, terlebih bagi anak-anak,” lanjutnya.
Di lokasi pengungsian Lapangan Gelora Samador, tercatat sekitar 1.207 orang mengungsi. Aparat kepolisian bersama pihak terkait pun terus memberikan pendampingan dan kegiatan trauma healing kepada para penyintas.
Kisah Paulina Pobi yang berhasil bertahan selama empat hari di bawah reruntuhan menjadi salah satu cerita haru di tengah upaya penanganan bencana gempa bumi besar yang melanda Flores dan sejumlah wilayah di NTT.***