Sikap tersebut cukup masuk akal. Sebab, tanpa pengumuman atau komunikasi resmi dari Presiden, berbagai nama yang disebut-sebut akan terkena reshuffle masih berada di wilayah spekulasi.
Bagi Demokrat, yang menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo, perubahan kabinet tentu memiliki arti politik. Tetapi, terlalu cepat bereaksi terhadap isu yang belum pasti justru bisa menciptakan kegaduhan baru.
Karena itu, pernyataan AHY dapat dibaca sebagai sinyal bahwa Demokrat masih menunggu. Belum ada informasi resmi yang membuat partai tersebut harus mengambil sikap tertentu terkait susunan kabinet.
Sementara itu, isu reshuffle kabinet tetap menjadi konsumsi politik yang menarik. Setiap perubahan posisi menteri selalu mengundang pertanyaan: siapa yang dievaluasi, siapa yang dipertahankan, dan siapa yang mungkin mendapat tempat baru?
Untuk saat ini, jawaban atas pertanyaan tersebut masih berada di tangan Prabowo. AHY sendiri memilih tidak menebak-nebak.
Satu hal yang jelas, Demokrat belum merasa “disenggol”. Dan dalam politik, justru kalimat sederhana semacam itu kadang membuat teka-teki reshuffle semakin panjang.***