TITIKTEMU.CO-Bayangkan ada dua orang yang berjalan menuju tujuan yang sama, tetapi bersikeras menempuh rute yang berseberangan. Begitulah gambaran unik hubungan politik antara PDI Perjuangan dan pemerintahan Prabowo Subianto saat ini.
Presiden Prabowo sempat melempar sinyal hangat dengan meyakini bahwa pada dasarnya hati PDIP berada di frekuensi yang sama dengan pemerintah. Namun, alih-alih langsung menyambut hangat ajakan untuk berangkulan dalam satu barisan koalisi, Ganjar Pranowo justru memberikan jawaban yang cukup filosofis sekaligus menohok.
Menurut Politisi PDIP tersebut, punya cita-cita dan semangat kebangsaan yang sama tidak serta-merta membuat sebuah partai politik harus buru-buru masuk ke dalam gerbong kekuasaan. Mengawal amanat konstitusi dan menjaga keselamatan bangsa adalah tugas semua elemen politik, tetapi caranya tidak harus selalu duduk di meja yang sama.
Baca Juga: Dari Wajah KPK ke Pengacara Kasus Besar, Perjalanan Febri Diansyah Kembali Jadi Sorotan
Lantas, apa yang sebenarnya dikejar banteng merah dengan memilih berada di luar arena? Jawabannya ada pada napas vital demokrasi itu sendiri, yaitu mekanisme penyeimbang alias checks and balances.
Mantan Gubernur Jawa Tengah itu menegaskan bahwa panggung demokrasi akan menjadi sangat hambar dan berbahaya jika semua kekuatan politik menumpuk di satu sisi. Tanpa hadirnya penyeimbang yang berani bersuara beda, roda kekuasaan rentan berjalan tanpa kontrol hingga berpotensi tergelincir menuju kekuasaan mutlak.
Pilihan untuk berdiri di luar koalisi pemerintah Prabowo dan Gibran bukan berarti PDIP menaruh dendam atau berniat memusuhi. Ganjar menegaskan bahwa partainya tetap menaruh rasa hormat yang tinggi kepada Presiden sebagai pemegang mandat sah dari rakyat.
Baca Juga: Sayembara Tangkap Begal Tuai Sorotan, Yusril Ingatkan Dedi Mulyadi soal Bahaya Main Hakim Sendiri
Peran yang diambil PDIP hari ini adalah menjadi pengawas yang kritis sekaligus konstruktif. Setiap kritik pedas atau nada sumbang yang nantinya dilemparkan ke istana bukan bertujuan untuk merobohkan pemerintahan, melainkan memastikan setiap kebijakan yang lahir tetap berada di rel konstitusi dan benar-benar berpihak pada rakyat kecil.
Dalam panggung politik, angin memang bisa berubah arah kapan saja dan masa depan selalu menyimpan kejutan. Meski demikian, sikap politik PDIP ditegaskan tidak akan mudah goyah atau silau hanya karena tergiur manisnya rayuan kursi jabatan dan kekuasaan.
Fokus utama mereka saat ini adalah memastikan koridor demokrasi tetap bernapas lega. Jadi, meski diklaim punya hati yang sama, jalan yang ditempuh PDIP hari ini membuktikan bahwa mencintai bangsa tidak harus selalu dengan cara menjadi bagian dari barisan penguasa.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pindah Kursi? Pengamat Soroti Gestur Prabowo-Gibran yang Picu Spekulasi Publik
Tentu saja, dalam peta politik yang serba dinamis, tidak ada keputusan yang benar-benar diukir di atas batu.
Perkembangan informasi dan peta kekuatan politik bisa bergeser dengan sangat cepat hanya dalam hitungan hari—bahkan jam—sejak kabar ini diturunkan, mengingat lobi-lobi di balik layar dan manuver para elite kerap menghadirkan kejutan yang tak terduga.