Banyak dewasa muda yang mengalami:
Kesulitan Menetapkan Batasan
Karena sejak kecil terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain, mereka sering merasa bersalah ketika mengatakan "tidak".
Takut Mengecewakan Orang Lain
Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya ditentukan oleh kemampuan memenuhi harapan orang lain.
Sulit Membangun Hubungan Sehat
Pola hubungan yang dipelajari sejak kecil sering terbawa ke pertemanan, percintaan, bahkan dunia kerja.
Tidak jarang seseorang tanpa sadar tertarik pada hubungan yang mengulang pola emosional yang familiar baginya, meskipun pola tersebut menyakitkan.
Mengapa Banyak Orang Baru Menyadarinya Saat Dewasa?
Saat masih kecil, anak tidak memiliki pembanding.
Apa yang terjadi di rumah dianggap sebagai hal normal karena itulah satu-satunya realitas yang mereka kenal. Kesadaran biasanya muncul ketika mereka mulai berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas.
Mungkin saat melihat keluarga teman yang lebih suportif. Mungkin saat menjalani terapi. Atau mungkin ketika membaca pengalaman orang lain yang terasa sangat mirip dengan hidup mereka sendiri.
Pada titik itulah banyak orang mulai menyadari bahwa masalahnya bukan karena mereka terlalu sensitif. Ada pola yang memang tidak sehat sejak awal.
Baca Juga: Kita Generasi Sandwich — Mengurus Anak Sekaligus Orang Tua, Ini Cara Bertahan
Memahami Luka Bukan Berarti Membenci Keluarga
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah anggapan bahwa mengakui luka keluarga berarti membenci orang tua.
Padahal tidak selalu demikian.
Sering kali orang tua juga merupakan produk dari lingkungan yang tidak sehat pada generasi sebelumnya. Mereka meneruskan pola yang sama karena tidak pernah belajar cara lain.
Memahami hal ini bukan untuk membenarkan perilaku yang menyakitkan, melainkan untuk melihat gambaran yang lebih utuh.