nasional

Kenapa Kopi Sachet Seharga 3 Ribu Itu Lebih Revolusioner dari Cold Brew 80 Ribu?

Jumat, 19 Juni 2026 | 19:22 WIB
Ilustrasi Kenapa kopi sachet lebih revolusioner daripada cold brew mahal? (Pinterest @baggie_raggi)

TITIKTEMU.CO-Ada sesuatu yang menarik dari secangkir kopi sachet.

Harganya mungkin hanya sekitar Rp3.000, tidak disajikan dalam gelas estetik, tidak punya cerita tentang biji kopi dari lereng gunung tertentu, dan jelas tidak tampil di unggahan Instagram dengan filter sinematik.

Namun jika bicara soal dampak sosial, budaya, bahkan ekonomi, kopi sachet mungkin jauh lebih revolusioner dibanding segelas cold brew seharga Rp80.000.

Ini bukan soal mana yang lebih enak. Ini soal siapa yang bisa ikut menikmati budaya minum kopi.

Baca Juga: Libur Sekolah Jadi Momen Hemat Rp3 Triliun, Tapi Kenapa Program MBG Malah Menuai Gelombang Protes?

Kopi Sachet: Minuman yang Menembus Semua Kelas Sosial

Di Indonesia, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah teman kerja, teman begadang, teman ronda, bahkan teman saat menunggu gaji masuk.

Yang menarik, kopi sachet berhasil melakukan sesuatu yang tidak semua produk bisa lakukan: menjangkau hampir semua lapisan masyarakat.

Mulai dari pengemudi ojek online, pegawai kantoran, mahasiswa, pedagang pasar, hingga petani di desa terpencil, semua bisa menikmati secangkir kopi dengan biaya yang relatif terjangkau.

Baca Juga: Satu Keputusan Finansial di Usia 25 yang Bisa Bernilai Rp1 Miliar Saat Anda Berusia 55 Tahun

Menurut berbagai laporan industri makanan dan minuman, segmen kopi instan masih menjadi kategori dengan konsumsi terbesar di Indonesia dibandingkan kopi specialty. Alasannya sederhana: murah, praktis, dan tersedia hampir di setiap warung.

Dalam konteks budaya, ini adalah bentuk demokratisasi kopi.

Ketika Cold Brew Menjadi Simbol Gaya Hidup

Bukan Sekadar Minuman

Halaman:

Tags

Terkini