Profesor Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, menjelaskan bahwa manusia memiliki dua sistem berpikir. Sistem pertama bekerja cepat, impulsif, dan emosional. Sistem kedua lebih lambat, logis, dan analitis.
Sayangnya, saat berhadapan dengan uang, sistem impulsif sering mengambil alih. Apalagi ketika kita sedang lelah, stres, atau bosan.
Baca Juga: Jangan Menyerah Dulu! 7 PTN Ini Masih Membuka Jalur Mandiri 2026, Ada yang Tutup Minggu Depan
Karena itu, keputusan membeli sesuatu sering kali bukan soal kebutuhan, melainkan respons emosional terhadap kondisi tertentu.
Kenapa Gen Z dan Milenial Lebih Rentan?
Dunia Digital Membuat Pengeluaran Terasa Tidak Nyata
Dulu, mengeluarkan uang berarti menyerahkan lembaran uang fisik. Sekarang cukup satu sentuhan layar.
Penelitian menunjukkan bahwa pembayaran digital dapat mengurangi "rasa sakit" saat mengeluarkan uang. Akibatnya, kita lebih mudah melakukan pembelian impulsif dibanding ketika membayar tunai.
Promo cashback, paylater, dan notifikasi diskon juga terus merangsang sistem penghargaan di otak.
Media Sosial Menciptakan Tekanan Finansial
Setiap hari kita melihat teman liburan, membeli gadget terbaru, atau nongkrong di tempat estetik. Tanpa sadar, otak melakukan perbandingan sosial.
Akibatnya muncul fenomena lifestyle inflation, yaitu pengeluaran meningkat seiring keinginan untuk mengikuti standar hidup yang terlihat di media sosial.
Baca Juga: Jangan Buru-buru Beli Tiket! Begini Cara Dapat Diskon Kereta 30 Persen untuk Liburan Sekolah 2026
Padahal, yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kondisi keuangan sebenarnya.