Di balik meja diplomasi, kisah pilu sekaligus heroik datang dari penuturan Rahendro Herubowo, seorang jurnalis asal Indonesia yang ikut ditahan.
Heru menceritakan secara gamblang bagaimana kekejaman yang ia terima di dalam sel tahanan. Mulai dari tangan yang diborgol rapat, barang bawaan yang sengaja dirusak dengan air, hingga intimidasi fisik berupa pukulan, tendangan, sampai sengatan listrik di bilik interogasi khusus yang membuat kondisi fisiknya merosot tajam.
Selama masa penahanan, para relawan juga hanya diberi konsumsi berupa sepotong roti kecil dan air dalam jumlah yang sangat terbatas.
Meskipun harus melewati trauma fisik dan psikologis yang hebat, semangat membara para relawan ini tidak padam sedikit pun.
Heru menegaskan dengan lantang bahwa dirinya sama sekali tidak kapok untuk kembali berangkat dalam misi kemanusiaan berikutnya.
Baginya, penderitaan yang ia alami selama beberapa hari di ruang tahanan tidak sebanding dengan penderitaan lahir batin warga Palestina yang harus bertahan hidup di bawah bayang-bayang konflik berkepanjangan setiap harinya.***