Jaringan ekspor sawit Indonesia yang ada saat ini pun bukan dibangun dalam Parenting
Bulking station, kapal tanker, trading hub, pembiayaan, hingga reputasi dibangun pengusaha swasta selama puluhan tahun. Memindahkan fungsi itu ke satu BUMN tanpa transisi yang jelas adalah langkah berisiko tinggi.
Baca Juga: Persib Juara Super League 2025-2026! Imbang 0-0 Lawan Persijap, Tapi Gelar Tetap Milik Maung
Solusi yang Ditawarkan Petani
POPSI tidak sekadar mengkritik. Mereka mengusulkan agar PT DSI difokuskan pada fungsi pengawasan: pencatatan, monitoring, dokumentasi, dan transparansi data ekspor — bukan menjadi eksportir tunggal yang mengambil alih seluruh rantai perdagangan.
Atau, kata Darto, rencana ini sebaiknya ditinjau ulang sepenuhnya. Mekanisme perdagangan dan pembentukan harga harus tetap berjalan melalui pasar yang kompetitif dan terbuka.
Kebijakan besar memang butuh keberanian. Tapi di kebun-kebun sawit Sumatera dan Kalimantan hari ini, buah yang membusuk sebelum sempat dipanen adalah pengingat bahwa kecepatan pengumuman harus sebanding dengan kesiapan implementasi.***