TITIKTEMU.CO-Belakangan ini banyak orang mulai sadar untuk memilah dengan ketat antara kebutuhan esensial dan gengsi sesaat.
Fenomena ini bukanlah tentang menjadi pelit, melainkan sebuah gerakan keuangan sadar yang disebut frugal living.
Gaya hidup hemat ini secara perlahan sedang mengubah cara konsumen Indonesia dalam membelanjakan uang mereka.
Dampaknya tidak hanya mempertebal tabungan pribadi, tetapi juga mulai memengaruhi panggung industri yang lebih besar.
Sektor ritel, fesyen, hingga kuliner kini mulai merasakan pergeseran omzet akibat perubahan perilaku belanja ini.
Pusat perbelanjaan tidak lagi sepadat dulu dan antrean di kafe kekinian juga cenderung makin menyusut.
Konsumen kini lebih memilih membeli barang berkualitas yang tahan lama daripada kuantitas yang cepat rusak.
Baca Juga: Buruan Daftar! PT Nindya Karya BUMN Buka Lowongan 2 Posisi Strategis, Deadline 24 Mei 2026
Mereka sangat memikirkan nilai jangka panjang dari setiap rupiah yang keluar dari dompet.
Perubahan pola pikir yang masif ini sempat membuat panik banyak pelaku usaha konvensional.
Akibatnya, para pemilik merek yang ingin bertahan kini dipaksa segera keluar dari zona nyaman mereka.
Baca Juga: Baterai Tahan 3 Hari! Moto G37 Power Resmi Meluncur dengan Harga Mulai Rp 2,9 Juta
Di industri fesyen, era kejayaan pakaian murah yang cepat rusak mulai ditantang oleh konsep keberlanjutan.