Angka yang tidak main-main.
Baca Juga: Haji 2026 Makin Digital: Aduan Jemaah Kini Dipantau Lewat Command Center dan Kawal Haji
Dari Uji Coba Kecil Jadi Program Raksasa
Menariknya, ide ini bukan lahir tiba-tiba.
Anggota komite penasihat bidang hospitality King Abdulaziz University, Bader Al-Juaid, mengungkapkan bahwa konsep ini pertama kali dicoba secara terbatas pada 2017 — hanya untuk sebagian jemaah asal Malaysia dalam kerangka Makkah Route Initiative.
Butuh hampir satu dekade untuk menyempurnakan sistem, membangun infrastruktur, dan memperluas jangkauan. Kini di 2026, program itu tumbuh menjadi salah satu inovasi layanan haji terbesar yang pernah ada.
Bader menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar soal efisiensi operasional, melainkan pergeseran mendasar dalam filosofi pelayanan haji — dari sekadar memindahkan orang, menjadi benar-benar merawat pengalaman ibadah mereka.
Kabar Baik untuk Jemaah Lansia dan Rombongan Besar
Pengamat sektor haji dan umrah Saad Al-Qurashi secara khusus menyoroti manfaat program ini bagi jemaah lansia dan kelompok besar.
Bagi mereka yang sudah tidak sekuat dulu secara fisik, tidak harus mengangkat dan menjaga koper di tengah keramaian bandara adalah sebuah kelegaan yang sesungguhnya.
Energi yang biasanya terkuras di bandara kini bisa disimpan untuk hal yang jauh lebih bermakna: fokus beribadah, menikmati setiap momen di Tanah Suci, dan menjalani perjalanan spiritual terbaik dalam hidup.
Haji 2026 memang belum selesai — tapi Arab Saudi sudah menunjukkan ke mana arah transformasi layanan ini menuju. Dan tampaknya, masa depan ibadah haji akan jauh lebih nyaman dari yang pernah kita bayangkan.***