Masalah tidak berhenti di situ. Padi juga merupakan tanaman yang sangat bergantung pada air. Ketika pola hujan menjadi tidak menentu dan musim kemarau makin panjang akibat perubahan iklim, ancaman semakin berlapis.
Belum lagi kenaikan permukaan laut yang mendorong air asin masuk ke lahan sawah dataran rendah — merusak lahan yang sudah dibangun dan dirawat selama berabad-abad.
Solusi Ada, Tapi Tidak Semudah Kelihatannya
Ada yang berargumen bahwa pemanasan global justru akan "membuka" wilayah-wilayah baru yang sebelumnya terlalu dingin untuk ditanami padi. Secara teori, ini terdengar masuk akal.
Tapi Gauthier langsung mengingatkan: kita tidak bisa begitu saja "mengemas sawah dan memindahkannya" ke lokasi baru.
Baca Juga: Bukan Film Biasa! '402 Rumah Sakit Angker Korea' Gunakan Shaman Asli dan 28 Kamera Sekaligus
Infrastruktur pertanian dibangun lintas generasi. Sistem irigasi, pengetahuan lokal petani, hingga ekosistem tanah — semuanya tidak bisa dipindahkan dalam semalam.
Dan yang paling krusial: mempertahankan total produksi global tidak otomatis menyelesaikan masalah bagi masyarakat Asia Selatan yang bergantung pada padi sebagai sumber kalori utama sehari-hari.
Padi bukan sekadar komoditas — ia adalah fondasi budaya makan lebih dari separuh penduduk bumi, dengan 90 persen produksinya terkonsentrasi di kawasan Asia.
Alarm yang Harus Kita Dengar
Studi ini bukan untuk menakut-nakuti.
Gauthier sendiri menegaskan bahwa fleksibilitas adaptasi manusia tidak boleh diremehkan.
Rekayasa varietas padi tahan panas terus dikembangkan, dan inovasi pertanian tidak pernah berhenti.
Namun ada perbedaan antara bisa beradaptasi dan sempat beradaptasi.