TITIKTEMU.CO-Bayangkan sebuah gang sempit di Samarinda yang terlihat biasa dari luar — tapi di dalamnya, ada sistem pengamanan selapis demi selapis yang lebih rapi dari sejumlah pos keamanan resmi.
Itulah kenyataan di balik Kampung Narkoba Gang Langgar, Kalimantan Timur, yang akhirnya berhasil dibongkar Bareskrim Polri pada Mei 2026.
Yang membuat kasus ini berbeda dari penggerebekan narkoba biasa bukan sekadar jumlah tersangka atau berat barang bukti — melainkan betapa terstrukturnya sistem yang dibangun sindikat ini selama bertahun-tahun.
Bukan Sekadar "Jual-Beli Biasa"
Menurut Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, peredaran narkoba di Gang Langgar berjalan secara terbuka, terstruktur, dan sangat terorganisir.
Di setiap sudut gang, ditempatkan pengawas lapangan — yang oleh polisi disebut sniper — lengkap dengan handy talky (HT) untuk berkomunikasi secara real-time.
Jumlahnya bukan main: 31 sniper aktif berjaga di malam hari, dan 22 orang di siang hari. Mereka bukan sekadar berdiri diam.
Tugas mereka mencakup mengarahkan calon pembeli menggunakan kode tangan, melaporkan situasi lewat HT, hingga memberlakukan aturan ketat: hanya satu orang per motor yang boleh masuk ke lokasi transaksi.
Siapa pun yang datang berdua, salah satunya harus turun dan menunggu di luar. Sesederhana itu — tapi justru di situlah kecerdikan sistemnya.
Empat Tahun Beroperasi, Omzet Ratusan Miliar
Gang Langgar bukan pemain baru. Loket narkoba di kawasan ini disebut telah beroperasi selama empat tahun, dengan kapasitas penjualan yang menggiurkan: antara 1.000 hingga 1.200 klip sabu per hari, masing-masing dijual seharga Rp150.000.
Hitungan kasarnya? Total omzet selama empat tahun beroperasi diperkirakan mencapai Rp630,7 miliar — angka yang melampaui pendapatan banyak perusahaan menengah.