TITIKTEMU.CO-Penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi menghadirkan berbagai penyesuaian baru demi meningkatkan keselamatan dan kenyamanan jemaah Indonesia, terutama saat memasuki fase paling padat dan melelahkan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang dikenal dengan Armuzna.
Di tengah jutaan jemaah dari seluruh dunia yang berkumpul dalam waktu bersamaan, pemerintah Indonesia mulai menerapkan pola layanan yang lebih adaptif melalui skema Murur dan Tanazul.
Kedua istilah ini memang sering disebut beriringan, tetapi ternyata memiliki fungsi dan mekanisme yang berbeda.
Baca Juga: Jangan Asal Upload! Kartu Nusuk Jemaah Haji Bisa Jadi Celah Kejahatan Digital
Banyak jemaah masih mengira Murur dan Tanazul adalah program yang sama, padahal keduanya diterapkan pada lokasi dan situasi yang berbeda selama puncak ibadah haji berlangsung.
Murur Jadi Solusi Kurangi Kepadatan di Muzdalifah
Murur merupakan skema perjalanan jemaah dari Arafah menuju Mina dengan cara melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus.
Dalam praktiknya, jemaah tetap melewati kawasan Muzdalifah sebagai bagian dari rangkaian ibadah, namun tidak bermalam di sana seperti pola haji reguler pada umumnya.
Baca Juga: Wujudkan Karier Impian di Sektor Pariwisata: Panduan Lengkap Magang Kemenpar Batch 3 Tahun 2026
Skema ini diprioritaskan bagi jemaah lanjut usia, penyandang disabilitas, hingga mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi.
Pemerintah menilai kondisi di Muzdalifah saat puncak haji sangat padat dan rawan menyebabkan kelelahan ekstrem, dehidrasi, bahkan gangguan kesehatan serius.
Karena itu, Murur dianggap sebagai bentuk rukhsah atau keringanan ibadah demi menjaga keselamatan jiwa jemaah tanpa mengurangi esensi pelaksanaan haji itu sendiri.
Baca Juga: Jemaah Haji Wajib Waspada! Akses Raudhah Gratis, Modus Penipuan Kartu Nusuk Mulai Bermunculan
Biasanya, setelah waktu Magrib di Arafah, jemaah langsung diberangkatkan menggunakan bus menuju Mina dengan melewati area Muzdalifah tanpa berhenti lama.