Banyak jemaah sering menganggap gejala tersebut sebagai kelelahan biasa akibat ibadah. Padahal, kondisi itu bisa menjadi sinyal tubuh mulai kekurangan cairan.
Baca Juga: Jemaah Haji Wajib Catat! Rute Lengkap Bus Shalawat Makkah ke Masjidil Haram 2026 Beserta Hotelnya
Khusus bagi jemaah lanjut usia, risiko dehidrasi bisa lebih besar karena kemampuan tubuh dalam merasakan haus cenderung menurun.
Lansia sering kali tidak sadar bahwa tubuhnya sudah kehilangan banyak cairan sampai kondisi benar-benar melemah.
Karena itu, para lansia dianjurkan untuk tidak menunggu haus sebelum minum.
Konsumsi cairan sedikit demi sedikit namun dilakukan secara rutin sepanjang hari dianggap lebih efektif menjaga hidrasi tubuh.
Selain air mineral, kebutuhan cairan juga bisa dipenuhi dari makanan berkuah dan buah-buahan dengan kandungan air tinggi seperti semangka, melon, jeruk, atau mentimun.
Asupan seperti ini membantu tubuh tetap segar di tengah cuaca panas yang menyengat.
Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Haji dan Umrah juga telah mengingatkan seluruh jemaah agar lebih waspada terhadap paparan suhu ekstrem selama musim haji berlangsung.
Jemaah dianjurkan menggunakan payung atau pelindung kepala berwarna terang saat berada di luar ruangan, menghindari aktivitas berlebihan di bawah terik matahari, serta beristirahat secara berkala di tempat teduh.
Langkah sederhana seperti rutin minum air ternyata bisa menjadi perlindungan penting agar ibadah tetap berjalan lancar.
Sebab di Tanah Suci, menjaga kesehatan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian penting dari kesiapan menjalankan rangkaian ibadah dengan aman.
Ibadah haji memang membutuhkan kekuatan fisik dan mental.
Namun di balik semangat beribadah, tubuh tetap perlu dijaga agar tidak tumbang oleh cuaca yang ekstrem dan kelelahan yang datang diam-diam.***