Murid Bukan Sekadar Siswa, Tapi Anak Sendiri
Meski belum memiliki anak secara biologis, Bu Atun memandang para siswanya sebagai bagian dari hidupnya.
Baca Juga: Kasus Lama Meledak Lagi: Hary Tanoe dan MNC Asia Holding Dihukum Bayar Rp 531 Miliar ke CMNP
Ia menganggap mereka seperti anak sendiri—yang perlu dibimbing, bukan dihakimi.
Saat insiden yang melibatkan beberapa siswa terjadi, ia tidak menyimpan dendam.
Bahkan sebelum permintaan maaf datang, ia sudah lebih dulu memaafkan. Baginya, kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan sejati tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter dan hati.
Ketulusan yang Tak Terduga
Momen paling mengharukan muncul ketika Bu Atun menerima bantuan dana sebesar Rp 25 juta dari seorang tokoh publik yang tersentuh dengan kisahnya.
Namun, keputusan yang ia ambil justru di luar dugaan.
Alih-alih menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan pribadi, ia memilih untuk menyumbangkannya kepada anak-anak yatim yang ia bina.
Keputusan ini bukan hanya mengejutkan, tapi juga menjadi bukti nyata bahwa ketulusan masih hidup di tengah masyarakat.
Baginya, kebaikan yang diterima harus kembali disebarkan, bukan disimpan sendiri.
Pendidikan dengan Hati, Bukan Sekadar Aturan
Terkait sanksi yang diberikan kepada siswa yang melakukan kesalahan, Bu Atun memiliki pandangan yang bijak.