Khusus untuk kapal yang menuju Indonesia, diketahui menggunakan bendera Panama dengan nama Crave.
Kapal ini mengangkut LPG dari Uni Emirat Arab dan berhasil melintasi jalur strategis tersebut sebelum akhirnya situasi kembali memanas.
Baca Juga: Zayn Malik vs Louis Tomlinson Memanas? Dari Rencana Reuni hingga Isu Adu Jotos yang Mengejutkan Fans
Lalu Lintas Energi Global Tetap Berjalan
Selain tanker LPG tujuan Indonesia, sejumlah kapal lain juga tercatat melintas membawa muatan dalam jumlah besFan
Di antaranya kapal Navig8 Macallister yang mengangkut sekitar 500 ribu barel nafta menuju Korea Selatan, serta kapal raksasa Fpmc C Lord yang membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi ke Taiwan.
Tak hanya itu, kapal berbendera India juga mengangkut ratusan ribu barel minyak mentah ke Sri Lanka, sementara kapal lain membawa pupuk hingga produk turunan minyak ke berbagai negara.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun kondisi geopolitik memanas, jalur distribusi energi global tetap berusaha berjalan.
Namun, situasi tersebut tidak berlangsung lama.
Setelah sempat dibuka, Selat Hormuz kembali ditutup oleh Iran akibat meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Penutupan ini kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia, termasuk bagi negara-negara importir seperti Indonesia.
Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Meski kapal yang melintas bukan milik Pertamina, fakta bahwa ada tanker LPG tujuan Indonesia yang berhasil menembus Selat Hormuz tetap menjadi sinyal penting.
Ini menunjukkan bahwa pasokan energi masih memiliki jalur alternatif, meski dengan risiko tinggi.