Orang tua dapat mengatakan, “Kamu sedang kesal ya?” untuk membantu anak mengidentifikasi perasaannya.
Baca Juga: Cuan di Era AI: 7 Ide Bisnis Cerdas yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini Tanpa Modal Besar
Konsistensi juga menjadi kunci utama dalam pendekatan ini.
Aturan yang berubah-ubah justru membuat anak bingung dan memperbesar kemungkinan tantrum.
Dengan aturan yang jelas dan konsisten, anak belajar tentang batasan sekaligus merasa aman secara emosional.
Tidak kalah penting, orang tua perlu memberikan contoh dalam mengelola emosi.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari apa yang dilakukan oleh orang tua.
Ketika orang tua mampu tetap tenang dalam situasi sulit, anak akan meniru pola tersebut secara bertahap.
Pendekatan ini juga menekankan pentingnya koneksi emosional setelah tantrum mereda.
Setelah anak tenang, ajak mereka berbicara dengan penuh empati untuk membangun kembali hubungan dan memberikan pemahaman yang lebih baik.
Berbagai ahli parenting modern menilai bahwa calm authority parenting lebih efektif dibandingkan pendekatan yang terlalu keras atau terlalu permisif, karena mampu menciptakan keseimbangan antara disiplin dan empati.
Di tengah dinamika parenting masa kini, pendekatan ini menjadi relevan karena tidak hanya mengatasi perilaku, tetapi juga membentuk karakter anak dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, mengatasi tantrum bukan tentang menghentikan emosi anak, melainkan membimbing mereka agar mampu memahami dan mengelola emosi tersebut dengan cara yang sehat.