Meski sempat ada pembahasan mengenai sistem hybrid atau kombinasi daring dan luring, namun implementasinya dinilai belum diperlukan.
Menurut Pratikno, kondisi saat ini masih memungkinkan kegiatan belajar berjalan normal di sekolah tanpa harus beralih ke sistem online.
Keputusan juga mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan kesenjangan akses teknologi di berbagai daerah di Indonesia. Tidak semua siswa punya fasilitas memadai untuk mengikuti pembelajaran daring secara optimal.
Baca Juga: Siswa Akan Belajar di Rumah Mulai April 2026? Begini Penjelasan Pemerintah
3. Fokus pada Peningkatan Mutu Pendidikan
Alasan lain, pemerintah yang saat ini focus mendorong peningkatan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Berbagai program strategis sedang dijalankan untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional.
Program meliputi revitalisasi sekolah, pengembangan Sekolah Rakyat, hingga pembangunan Sekolah Unggul Garuda. Semua inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih baik dan merata.
Dengan adanya prioritas besar di sektor pendidikan, pemerintah memilih untuk memperkuat sistem pembelajaran tatap muka dibandingkan mengalihkan ke metode daring yang dinilai kurang efektif.
Baca Juga: Bukan Otoriter, Bukan Bebas: Hybrid Parenting Jadi Gaya Asuh Favorit Orang Tua 2026
Latar Belakang Rencana Belajar Daring
Sebelumnya, wacana belajar daring muncul sebagai bagian dari strategi efisiensi energi nasional. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dikhawatirkan berdampak pada pasokan energi global.
Karena itu, pemerintah sempat mempertimbangkan langkah-langkah penghematan, termasuk di sektor pendidikan.
Namun, setelah dilakukan evaluasi menyeluruh, dampak terhadap kualitas pendidikan dinilai lebih besar dibanding manfaat efisiensi energi yang dihasilkan.***