TITIKTEMU.CO - Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki babak yang lebih mengkhawatirkan.
Serangan Iran ke Ras Laffan Industrial City di Qatar tidak hanya menjadi eskalasi militer biasa, tetapi juga menandai ancaman serius terhadap stabilitas energi global.
Pasalnya, kawasan tersebut merupakan rumah bagi kompleks LNG (liquefied natural gas) terbesar di dunia.
Dampaknya tidak main-main.
Serangan ini dilaporkan menyebabkan kerusakan besar yang langsung memangkas sekitar 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar.
Baca Juga: Libur Lebaran 2026 Anti Biasa! Ini Destinasi Wisata Favorit yang Wajib Masuk Wishlist Kamu
Angka tersebut cukup signifikan mengingat Qatar adalah salah satu pemasok utama gas alam cair bagi pasar global, khususnya Eropa dan Asia.
Gangguan ini pun diprediksi tidak bersifat sementara.
Sejumlah fasilitas penting mengalami kerusakan parah, termasuk komponen vital yang membuat proses produksi dan distribusi gas tidak bisa berjalan normal.
Bahkan, pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Di balik insiden ini, muncul fakta menarik. Menteri Energi Qatar sekaligus CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, mengungkap bahwa ia sebenarnya sudah lama memperingatkan risiko serangan terhadap infrastruktur energi.
Baca Juga: Jangan Panik! Ini Jadwal Bank Buka Saat Lebaran 2026 yang Wajib Kamu Tahu
Ia bahkan mengaku rutin menyampaikan kekhawatiran tersebut kepada pejabat Amerika Serikat dan para pelaku industri energi global.
Menurut al-Kaabi, tensi yang terus meningkat antara Iran dan pihak Barat membuat fasilitas energi di kawasan Teluk menjadi target yang sangat rentan.
Ia menekankan pentingnya menahan diri dan menjaga agar konflik tidak merembet ke sektor vital seperti minyak dan gas.