Kariernya terus menanjak ketika ia menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat pada 1985. Tidak lama setelah itu, Try Sutrisno dipercaya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada periode 1986 hingga 1988.
Selama menjabat KSAD, ia dikenal memiliki perhatian terhadap kesejahteraan prajurit. Salah satu langkah yang diinisiasinya adalah pembentukan Badan Tabungan Wajib Perumahan TNI-AD, program yang bertujuan membantu prajurit memiliki tempat tinggal yang layak.
Baca Juga: Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno Wafat di Usia 90 Tahun
Menjadi Panglima ABRI
Tonggak penting dalam perjalanan kariernya terjadi pada 1988, ketika Try Sutrisno diangkat sebagai mm Panglima ABRI.
Pada masa itu, ABRI—yang kini dikenal sebagai TNI—masih menjalankan konsep dwifungsi, yakni peran militer tidak hanya dalam bidang pertahanan dan keamanan, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan politik nasional.
Sebagai Panglima ABRI periode 1988–1993, Try Sutrisno memimpin institusi militer di tengah dinamika politik dalam negeri dan perubahan geopolitik global. Indonesia saat itu menghadapi berbagai tantangan keamanan serta sorotan internasional terkait isu demokrasi dan hak asasi manusia.
Di bawah kepemimpinannya, ABRI tetap menjadi salah satu pilar utama stabilitas pemerintahan pada masa Orde Baru. Perannya dalam berbagai keputusan strategis memperkuat posisinya sebagai figur penting dalam lingkaran elite kekuasaan saat itu.
Baca Juga: Ketika Mantan PETI Bersama-sama Membangun Pongkor
Terpilih Menjadi Wakil Presiden
Karier politik Try Sutrisno mencapai puncaknya ketika ia terpilih sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dalam Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat tahun 1993.
Dia mendampingi Presiden Soeharto untuk masa jabatan 1993–1998, menggantikan Sudharmono.
Sebagai wakil presiden, Try Sutrisno kerap mewakili presiden dalam berbagai agenda kenegaraan, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Pada masa pemerintahannya, Indonesia sempat mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat sebelum akhirnya diterpa krisis finansial Asia pada 1997.
Krisis tersebut kemudian berkembang menjadi krisis multidimensi yang memicu perubahan besar dalam sistem politik Indonesia, termasuk terjadinya Reformasi 1998 yang mengakhiri era pemerintahan Soeharto.
Try Sutrisno menyelesaikan masa tugasnya sebagai wakil presiden pada periode penuh gejolak tersebut. Meski demikian, namanya tetap tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia.***