nasional

REKA Bogor Audiensi dengan Wali Kota, Bahas Penguatan Ekonomi Kreatif dan Target Kota Kreatif UNESCO

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:13 WIB
Pertemuan REKA Bogor dengan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim. (Dok. Istimewa)

TITIKTEMU.CO - Rembug Kreatif (REKA) Bogor menggelar audiensi bersama Dedie A Rachim selaku Wali Kota Bogor beserta jajaran perangkat daerah. Pertemuan yang berlangsung sekitar 90 menit tersebut membahas strategi penguatan ekosistem ekonomi kreatif sekaligus langkah konkret menuju jejaring Kota Kreatif UNESCO.

Dalam pemaparannya, Ketua REKA Bogor, Georgian Marcello, menyampaikan bahwa sektor ekonomi kreatif di Bogor menunjukkan perkembangan positif. Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ekonomi kreatif tercatat mencapai 5,72 persen, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 57.000 orang. Angka tersebut menjadi indikator bahwa sektor kreatif telah menjadi salah satu penopang penting perekonomian kota.

Selama lima tahun terakhir, REKA Bogor konsisten menjalankan berbagai program, mulai dari peningkatan kapasitas pelaku, penyelenggaraan festival lintas subsektor, aktivasi ruang-ruang kreatif, hingga perluasan jejaring kolaborasi. Upaya ini memperkuat fondasi ekosistem yang dinilai siap melangkah ke level internasional.

Baca Juga: Rizky Billar dan Lesti Kejora Sambut Kelahiran Anak Ketiga, Putri Kedua Lahir 23 Februari 2026

Bogor sendiri telah ditetapkan sebagai Kota Seni Pertunjukan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I). Penetapan tersebut ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Uji Petik PMK3I pada 26 Februari 2026 oleh Pemerintah Kota Bogor bersama perwakilan ekosistem kreatif.

REKA Bogor memandang capaian ini sebagai modal kuat untuk mengajukan Bogor ke dalam jejaring Kota Kreatif UNESCO. Menanggapi hal tersebut, Wali Kota menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif sejalan dengan visi pembangunan “Bogor Sains Kreatif Maju Berkelanjutan”. Menurutnya, kreativitas bukan hanya sektor ekonomi, tetapi juga identitas serta daya saing kota.

Dalam diskusi, Georgian Marcello sempat menanyakan arah pengembangan Bogor, apakah akan fokus sebagai Kota Seni Pertunjukan atau Kota Gastronomi. Dedie A Rachim menjelaskan bahwa berbagai sektor memiliki peluang untuk dikembangkan, namun terdapat tantangan di luar sektor kuliner, terutama karena belum adanya institusi pendidikan seni dan desain yang memadai. Ia menekankan pentingnya penyiapan infrastruktur dan suprastruktur pendukung agar pengembangan subsektor kreatif berjalan optimal.

Baca Juga: Viral Guru Seberangi 6 Sungai Demi Mengajar di SD Terpencil Parigi Moutong, Harap Perhatian Pemerintah

Salah satu isu strategis yang turut dibahas adalah kondisi Gedung Pertunjukan Kemuning Gading. Pemerintah Kota menemukan adanya keretakan pada bangunan tersebut, sehingga rencana renovasi yang telah dianggarkan kemungkinan perlu ditunda untuk kajian ulang demi memastikan keselamatan publik. Sambil menunggu hasil evaluasi teknis, alternatif pemanfaatan ruang lain akan dioptimalkan agar kegiatan komunitas tetap berjalan.

Audiensi tersebut menghasilkan komitmen bersama antara Pemkot dan REKA Bogor untuk mempercepat konsolidasi ekosistem kreatif, memperkuat narasi kota kreatif, serta menyiapkan tahapan strategis menuju pengajuan sebagai Kota Kreatif UNESCO. Kedua pihak sepakat bahwa kolaborasi lintas sektor dan konsistensi kebijakan menjadi kunci agar kreativitas tidak sekadar menjadi gerakan komunitas, melainkan terintegrasi dalam arsitektur pembangunan Kota Bogor secara menyeluruh.***

Tags

Terkini