Dalam banyak kasus, bertahan di luar negeri hingga mencapai posisi strategis justru bisa membawa manfaat lebih besar bagi bangsa.
Ia mencontohkan India, yang banyak warganya menduduki posisi penting di perusahaan global seperti Silicon Valley.
Dari sana, lahir investasi, jejaring bisnis, dan peluang kerja yang mengalir kembali ke negara asal.
Sebagai ilmuwan yang lama berkarier di luar negeri, Stella mengaku selalu bangga menyatakan identitasnya sebagai orang Indonesia.
Ia percaya, reputasi individu di kancah internasional juga berkontribusi pada citra bangsa.
Baca Juga: S1 Unhan 2026 Masih Buka Pendaftaran hingga 28 Februari: Kuliah Gratis, Siap Cetak Letda Muda
Viral Konten dan Teguran LPDP
Kasus ini bermula dari unggahan Dwi Sasetyaningtyas, alumni LPDP, yang menyatakan bahwa dirinya cukup menjadi WNI dan berharap anak-anaknya memiliki kewarganegaraan asing dengan paspor yang lebih kuat.
Narasi tersebut memicu kemarahan warganet yang menilai pernyataan itu tidak sensitif sebagai penerima beasiswa negara.
LPDP pun memberikan teguran serta melakukan klarifikasi atas polemik yang berkembang.
Isu semakin meluas ketika publik menyoroti kewajiban pengabdian dan kehidupan pribadi yang bersangkutan.
Padahal, selama masa pengabdian di Indonesia, Dwi tercatat menjalankan berbagai kegiatan sosial, mulai dari inisiasi penanaman 10 ribu mangrove, pemberdayaan ibu rumah tangga, hingga keterlibatan dalam penanggulangan bencana dan pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur.
Baca Juga: Rahmat Turun di Awal Ramadhan: 10 Hari Pertama yang Mengubah Cara Pandang Ibadah
Menumbuhkan Patriotisme dari Rumah
Dalam merespons polemik ini, Stella membagikan pandangannya tentang cara menumbuhkan rasa cinta Tanah Air.