Dalam tradisi masyarakat Arab kala itu, perempuan bangsawan lazim dijodohkan dengan kerabat dekat demi menjaga kehormatan keluarga.
Namun sejumlah sejarawan mencatat, Khadijah menolak tunduk sepenuhnya pada arus tradisi. Khadijah menempuh jalannya sendiri.
Robert G. Hoyland, profesor sejarah Timur Tengah Kuno, menyebut Khadijah sebagai perempuan dengan ambisi jiwa yang bebas dan kemauan kuat. Ia memilih pasangannya sendiri.
Baca Juga: Rahasia Jasad Abu Thalhah Tetap Utuh: Kisah Puasa, Jihad, dan Cinta Tamu yang Menggetarkan Hati
Sejarawan dan penulis Inggris Bettany Hughes menambahkan, “Dia terbiasa mandiri.” Latar belakangnya sebagai pengusaha membuat Khadijah tidak hanya kaya, tetapi juga matang secara mental dan sosial.
Ia mengambil alih dan menjalankan bisnis keluarga setelah ayahnya wafat, sesuatu yang sebenarnya tidak lazim bagi perempuan di zamannya.
Dalam sejumlah literatur klasik, Khadijah dijuluki Ath-Thahirah, yang berarti suci dan mulia. Julukan ini lahir dari reputasinya yang bersih, kecerdasannya dalam berdagang, serta integritasnya dalam menjaga kehormatan diri.
Baca Juga: Kisah Julaibib, Terasing di Bumi, Tapi Mulia di Langit
Menemukan Tanda Kenabian
Pertemuan Khadijah dengan Muhammad bermula dari hubungan dagang. Ia mempekerjakan Muhammad untuk membawa barang dagangannya ke Syam.
Kejujuran dan integritas Muhammad dalam berdagang membuat Khadijah terkesan. Ia melihat kejujuran, ketenangan, serta karakter istimewa yang tak dimiliki orang lain.
Ulama Indonesia, Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, dalam ceramahnya menyebut Khadijah sebagai perempuan yang memiliki keluasan wawasan spiritual.
Ia kerap berdiskusi dengan sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang pencari kebenaran yang mendalami Injil dan manuskrip kuno. Dari diskusi dan pengetahuan itulah Khadijah memahami tanda-tanda kenabian.
“Khadijah menemukan semua alamat kenabian pada diri Muhammad,” ujar Gus Baha.
Ketika akhirnya mereka menikah, Khadijah berusia 40 tahun dan Muhammad 25 tahun, pernikahan itu bukan sekadar ikatan personal.