nasional

APBN Hampir Tembus Garis Merah: Menkeu Purbaya Akui Pejabat Kemenkeu Sampai Susah Tidur

Jumat, 30 Januari 2026 | 11:00 WIB
Defisit APBN 2025 nyaris 3%. (@menkeuri)

TITIKTEMU.CO - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap suasana menegangkan yang sempat menyelimuti internal Kementerian Keuangan menjelang penutupan tahun anggaran 2025.

Penyebabnya bukan hal sepele: defisit APBN 2025 melonjak hingga Rp 695,1 triliun, setara 2,92% dari PDB—angka yang nyaris menyentuh batas konstitusional 3%.

Buat orang awam, angka ini mungkin terdengar seperti statistik biasa. Tapi bagi pengelola fiskal negara, ini ibarat berjalan di tepi jurang: sedikit saja meleset, dampaknya bisa terasa luas ke stabilitas ekonomi.

Baca Juga: Can This Love Be Translated? Tembus 118 Juta Jam Ditonton, Dunia Ikut Baper Bareng

Defisit Membesar: Penerimaan Tidak Sesuai Harapan, Belanja Tetap Gaspol

Purbaya menjelaskan, kondisi genting ini terjadi karena penerimaan negara tidak mencapai target, sementara belanja negara tetap ekspansif demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Artinya, negara tetap mengeluarkan biaya untuk menjaga program berjalan dan roda ekonomi tetap berputar, namun pemasukan yang diharapkan tidak sepenuhnya masuk sesuai rencana.

Kombinasi inilah yang membuat ruang gerak fiskal semakin sempit.

“Sampai Tengah Malam Tidak Bisa Tidur”: Tegangnya Orang-Orang di Balik Angka

Dalam acara Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Kantor Kementerian Keuangan, Rabu (28/1/2026), Purbaya bahkan menceritakan situasi internal yang cukup menggambarkan tekanan besar di penghujung tahun anggaran.

Ia menyebut beberapa pejabat kunci seperti Dirjen Perbendaharaan, Dirjen Anggaran, dan Dirjen Pajak sampai mengalami malam-malam yang sulit karena kekhawatiran defisit menembus angka 3%.

Menurutnya, kondisi itu menjadi alarm bahwa pengelolaan uang negara bukan sekadar soal administrasi, melainkan soal ketepatan keputusan yang menyangkut banyak orang.

Baca Juga: Omzet Triliunan Diselipkan ke Rekening Karyawan: PPATK Temukan Pola Baru di Kasus Pajak Tekstil

Ruang Fiskal Tipis: Salah Hitung Sedikit, Efeknya Bisa Berantai

Halaman:

Tags

Terkini