TITIKTEMU.CO - Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan dijalankan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) bertujuan memperluas akses pendidikan yang layak bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem di Indonesia. Inisiatif ini dirancang sebagai upaya memuliakan kelompok rentan sekaligus mendorong kebangkitan masyarakat kecil atau wong cilik.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf sebelumnya menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan, tetapi juga bentuk keberpihakan negara terhadap warga kurang mampu. Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan anak-anak dari keluarga miskin tetap mendapatkan kesempatan belajar yang bermartabat.
Dalam proses pelaksanaannya, Sekolah Rakyat justru mengungkap persoalan lain yang selama ini luput dari perhatian, khususnya terkait kondisi kesehatan anak-anak dari keluarga prasejahtera. Fakta tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemensos, Robben Rico, dalam forum diskusi Jaringan Pemred Promedia (JPP) yang digelar secara daring pada Selasa, 20 November 2026.
Baca Juga: Lumpur Banjir Masih Menimbun Rumah Warga Pidie Jaya, 55 Hari Berlalu Jelang Ramadan
Rico menjelaskan, setiap calon siswa Sekolah Rakyat wajib menjalani pemeriksaan kesehatan sejak hari pertama masuk. Pemeriksaan ini dilakukan bersamaan dengan dimulainya operasional Sekolah Rakyat pada 14 Juli 2025.
Hasil pemeriksaan awal tersebut menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Rico menyebut hampir seluruh siswa yang diperiksa mengaku tidak memiliki kebiasaan menyikat gigi. Temuan ini menjadi salah satu indikator rendahnya akses terhadap layanan kesehatan dasar.
Berdasarkan data Kemensos, dari total 7.409 anak yang menjalani pemeriksaan, sekitar 49 persen di antaranya mengalami masalah pada gigi. Selain gangguan gigi dan mulut, petugas juga menemukan berbagai persoalan kesehatan lain seperti anemia, kekurangan gizi, hingga penyakit menular.
Baca Juga: Simulasi Angsuran KUR BRI Januari 2026, Pinjaman Rp5 Juta hingga Rp150 Juta dengan Syarat Mudah
“Kasusnya beragam, mulai dari anemia, gizi buruk, hingga penyakit seperti TBC dan hepatitis,” ungkap Rico dalam diskusi tersebut.
Karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem asrama, aspek kesehatan menjadi perhatian serius. Rico menegaskan, setiap penyakit yang berpotensi menular harus ditangani lebih dulu sebelum siswa tinggal bersama di lingkungan asrama.
Ia menambahkan, Sekolah Rakyat tidak memberlakukan seleksi akademik maupun kesehatan sebagai syarat masuk. Kriteria utama penerimaan hanyalah berasal dari keluarga miskin atau miskin ekstrem. Namun, pemeriksaan kesehatan tetap dilakukan demi keamanan dan kenyamanan bersama.
“Kalau ditemukan penyakit menular, anak tetap diterima. Hanya saja, pengobatan diselesaikan lebih dulu sampai sembuh, baru kemudian masuk ke asrama,” jelasnya.
Baca Juga: Prilly Latuconsina Resmi Mundur dari Sinemaku Pictures, Fokus Bangun Ruang Kreatif Baru
Lebih lanjut, Rico menilai kondisi ekonomi keluarga sangat memengaruhi kesehatan anak. Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bappenas yang menyebut pengeluaran masyarakat miskin ekstrem hanya sekitar Rp400 ribu per kapita per bulan.