Pada periode 13–19 Januari 2026, BMKG telah melaksanakan 31 sortie penerbangan dengan total penyemaian puluhan ton bahan semai.
Baca Juga: Tarif Orang Asing Bakal Berubah? Menteri Imigrasi Temui Menkeu Bahas PNBP dan Anggaran Bapas
Fenomena Atmosfer Jadi Alarm Cuaca
Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengungkapkan bahwa seluruh tahapan operasi berada di bawah supervisi teknis ketat BMKG.
Sebelum pesawat diterbangkan, kondisi atmosfer dipantau secara detail melalui radar cuaca dan analisis dinamika atmosfer.
Sejumlah fenomena global dan regional saat ini dinilai berkontribusi pada peningkatan potensi hujan, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 2, gelombang Kelvin, gelombang frekuensi rendah, hingga nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang negatif.
Kelembapan udara di wilayah Jabodetabek juga terpantau tinggi di berbagai lapisan atmosfer.
“Atmosfer saat ini cukup labil, dengan potensi konveksi sedang. Fokus kami adalah mengurangi awan hujan yang bergerak ke Jakarta agar aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan nyaman,” ujar Budi.
Waspada Nasional, Bukan Hanya Jakarta
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, turut mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem tidak hanya mengintai Jakarta.
Berdasarkan analisis terbaru, peningkatan intensitas hujan diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Ia meminta masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan rutin memantau informasi resmi dari BMKG.
Bibit Siklon dan Monsun Perkuat Ancaman Hujan
Plt. Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca sepekan ke depan turut dipengaruhi oleh Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia.
Pergerakan sistem ini berpotensi memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah selatan Indonesia.