nasional

Teror untuk Para Pengkritik, Alarm Demokrasi di Tengah Bencana Sumatera

Minggu, 4 Januari 2026 | 12:30 WIB
Teror untuk Para Pengkritik, Alarm Demokrasi di Tengah Bencana Sumatera. (ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)

Kasus serupa menimpa Virdan Aurellio, influencer yang kritis di media sosial. Dia menerima ancaman melalui pesan ponsel usai mengunggah konten kritik terkait utang negara dan dampak ekologis kebijakan pembangunan.

Meski tidak disertai kekerasan fisik, ancaman tersebut menambah daftar panjang intimidasi terhadap warga yang bersuara.

Baca Juga: Update Bencana Sumatra: Korban Meninggal 1.138 Orang, Infrastruktur Mulai Pulih

Bom Molotov hingga Bangkai Ayam

Teror paling serius dialami Ramond Donny Adam atau DJ Donny yang mengaku menerima paket berisi bangkai ayam lengkap dengan foto dirinya dan pesan ancaman bernada kekerasan.

Isi pesan tersebut secara eksplisit memperingatkan agar dia menjaga mulut, terutama di media sosial.

Puncaknya terjadi pada Rabu dini hari, 31 Desember 2025, ketika rumah DJ Donny dilempari bom molotov oleh orang tak dikenal.

Rekaman CCTV menunjukkan dua pelaku mengenakan jaket dan masker melemparkan bom molotov ke arah rumahnya sebelum melarikan diri. Lemparan mengenai mobil, meski api padam sebelum membesar.

Merasa keselamatan keluarga dan lingkungan sekitar terancam, DJ Donny melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya pada hari yang sama.

Polisi membenarkan telah menerima laporan dan menyatakan akan melakukan penyelidikan serta memeriksa saksi-saksi.

Selain Donny, teror juga menyasar aktor Yama Carlos yang menerima kiriman paket Cash on Delivery (COD) bertubi-tubi atas namanya.

Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, juga menerima kiriman bangkai ayam. Rentetan kejadian ini berlangsung dari pertengahan hingga akhir Desember 2025.

Baca Juga: Kaleidoskop Bencana 2025: Banjir Mengalir sampai Jauh

Kritik yang Dianggap Ancaman?

Rangkaian teror jelas mengkhawatirkan. Di tengah desakan publik agar pemerintah menetapkan status bencana nasional, dan memperbaiki penanganan bencana, suara-suara kritis justru menghadapi tekanan.

Halaman:

Tags

Terkini