nasional

Teror untuk Para Pengkritik, Alarm Demokrasi di Tengah Bencana Sumatera

Minggu, 4 Januari 2026 | 12:30 WIB
Teror untuk Para Pengkritik, Alarm Demokrasi di Tengah Bencana Sumatera. (ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)

TITIKTEMU.CO - Di saat ribuan warga Sumatera masih berjuang di pengungsian dan hujan belum sepenuhnya reda, Indonesia justru diguncang rangkaian teror terhadap suara-suara kritis.

Sejumlah influencer, aktivis, hingga pegiat lingkungan mengaku menerima ancaman serius setelah menyampaikan kritik soal penanganan bencana, krisis lingkungan, dan kebijakan negara.

Kondisi ini pun memunculkan satu pertanyaan besar: mengapa kritik terhadap penananganan bencana justru dibalas dengan teror dan intimidasi?

Baca Juga: Tega di Tengah Bencana: Saat Kemanusiaan Terluka oleh Sabotase Baut Jembatan Bailey di Sumatera 

Ya, dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat dihebohkan dengan berbagai laporan teror yang dialami konten kreator dan aktivis.

Polanya beragam, mulai dari ancaman digital, pengiriman bangkai hewan, vandalisme, hingga aksi kekerasan fisik.

Kesamaan dari kasus-kasus ini terletak pada satu titik: para korban dikenal vokal menyuarakan kritik terhadap isu-isu struktural, terutama penanganan bencana di Sumatera.

Baca Juga: BRI Peduli Gelar Program “Trauma Healing” untuk Anak-Anak Terdampak Bencana Sumatera 

Teror terhadap Para Pengkritik

Salah satu kasus yang menyita perhatian dialami Sherly Annavita, konten kreator asal Aceh. Setelah menyuarakan kritik terkait kondisi korban bencana di Sumatera, Sherly mengaku menerima teror beruntun.

Rumahnya dilempari telur busuk, kendaraan pribadinya dirusak, dan ancaman tertulis dikirimkan ke alamat pribadinya pada akhir Desember 2025.

Sebelumnya, dia mengklontarkan kritisan terhadap akses bantuan yang terhambat, listrik yang belum sepenuhnya menyala, hingga lemahnya koordinasi negara dalam menangani bencana.

 Sherly menegaskan kritiknya benar-benar muncul dari pengalaman langsung di lapangan. Dia turun ke wilayah terdampak, menyaksikan warga bertahan tanpa kepastian, dan merasa negara belum hadir secara memadai.

Bagi Sherly, suara tersebut adalah bentuk kepedulian kemanusiaan, bukan agenda politik. Dia hanya mengungkapkan apa yang terjadi di lapangan.

Halaman:

Tags

Terkini