nasional

Kenapa Banyak Profesional Muda Ingin Resign di Akhir Tahun?

Minggu, 28 Desember 2025 | 21:25 WIB
Ilustrasi Fenomena resign massal akhir tahun oleh profesional muda (Desain AI )

TITIKTEMU.CO - Akhir tahun seringkali bukan hanya musim liburan, melainkan juga musim resign bagi banyak profesional muda yang mulai mempertanyakan arah karier mereka di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin berat.

​Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan indikasi mendalam tentang pergeseran nilai dan prioritas generasi muda terhadap definisi kesuksesan yang melampaui sekadar gaji tinggi.

​Memahami akar permasalahan di balik keinginan untuk hengkang ini adalah kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.

Baca Juga: Merapi Kembali Erupsi, BPPTKG Tegaskan Status Siaga dan Kondisi Wisata Lereng Saat Ini

​Kelelahan Mental: Fenomena Burnout yang Meluas

​Beban kerja yang tak henti-hentinya, ekspektasi yang tinggi, dan budaya kerja yang menuntut ketersediaan 24/7 telah menciptakan gelombang kelelahan mental di kalangan profesional muda.

​Tekanan untuk selalu berkinerja prima diiringi dengan minimnya dukungan emosional dari perusahaan seringkali menjadi pemicu utama seseorang merasa ingin menyerah dan mencari suasana baru.

​Akhir tahun menjadi momen krusial untuk refleksi diri, di mana banyak individu mulai menyadari bahwa kesehatan mental mereka jauh lebih berharga daripada posisi atau jabatan yang dipertahankan mati-matian

Baca Juga: Resolusi Karier yang Realistis: Berhenti Berjanji, Mulai Beraksi Tanpa Burnout

​Pencarian Makna: Bukan Sekadar Gaji

​Generasi muda saat ini tidak hanya mencari stabilitas finansial, melainkan juga pekerjaan yang memberikan dampak positif dan selaras dengan nilai-nilai personal mereka.

​Pekerjaan yang terasa monoton, kurang memberikan kesempatan untuk berinovasi, atau tidak memiliki tujuan yang jelas di mata mereka seringkali menjadi alasan utama untuk hengkang.

​Mereka ingin merasa berarti dan berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari sekadar mencapai target penjualan atau memenuhi KPI perusahaan.

Baca Juga: 5 K-Drama Paling Menghangatkan Saat Hidup Lelah, Nomor 4 Bikin “Oh, Gue Banget”

​Minimnya Fleksibilitas dan Work Life Balance

​Ekspektasi akan fleksibilitas kerja, seperti opsi WFH atau jam kerja yang lebih adaptif, kini menjadi salah satu faktor penentu utama bagi profesional muda dalam memilih tempat berkarier.

​Lingkungan kerja yang masih menganut sistem kaku dengan jam kantor tradisional seringkali dianggap ketinggalan zaman dan tidak mampu memenuhi kebutuhan gaya hidup modern mereka.

Halaman:

Tags

Terkini