Unggahan video tersebut disertai pesan sederhana namun penuh makna, “Terima kasih warga Gayo, mohon maaf jika banyak kekurangan, kami berusaha yang terbaik untuk saudara-saudara kita yang terdampak.”
Sebuah kalimat singkat yang terasa jujur dan membumi.
Warganet Tersentuh: Masih Bisa Berbagi di Tengah Kesulitan
Respons publik pun mengalir deras. Lebih dari 4.500 komentar membanjiri unggahan tersebut. Banyak yang mengaku terharu melihat warga yang baru saja menerima bantuan, namun masih sempat memberi.
Komentar seperti “Masih sempat-sempatnya berbagi,” hingga “Di saat susah pun tetap memberi,” menggambarkan kekaguman warganet terhadap sikap warga Gayo.
Durian itu mungkin sederhana, tetapi maknanya jauh lebih dalam.
Gayo Lues yang Masih Berjuang
Hampir satu bulan pascabanjir bandang dan longsor, kondisi di Gayo Lues belum sepenuhnya pulih.
Sejumlah desa masih terisolasi akibat akses jalan yang terputus.
Listrik pun belum menyala normal.
Di beberapa wilayah, aliran listrik hanya tersedia pada jam-jam tertentu secara bergilir.
Sebagai daerah dataran tinggi, pendistribusian logistik masih menjadi tantangan besar yang perlu penanganan berkelanjutan dari berbagai pihak.
Namun di tengah keterbatasan itu, warga Gayo Lues kembali mengajarkan satu hal penting: empati tak pernah ikut hanyut oleh banjir.***