Setiap rupiah yang terlalu lama mengendap adalah peluang ekonomi yang tertunda.
Menjelang tutup tahun 2025, pemerintah berada di persimpangan klasik kebijakan fiskal: mengejar realisasi belanja dalam waktu sempit, tanpa mengorbankan kualitas dan manfaat jangka panjang.
Tantangannya bukan sekadar menghabiskan anggaran, melainkan memastikan belanja benar-benar memberi daya dorong bagi ekonomi dan masyarakat.
Sisa Rp616 triliun bukan hanya angka di atas kertas. Ia adalah ujian apakah APBN mampu berfungsi sebagai instrumen yang responsif dan berdampak nyata.
Di detik-detik terakhir tahun anggaran, keberhasilan bukan diukur dari seberapa cepat uang keluar dari kas negara, tetapi seberapa jauh ia mampu menggerakkan roda ekonomi di dunia nyata.***