Direktur Operasional Modifikasi Cuaca, Budi Harsoyo, menyampaikan bahwa operasi dilakukan dari Lanudal Juanda, Surabaya.
Hingga hari kedua, sudah empat sorti penerbangan dilakukan dengan empat ton bahan semai.
Pesawat Cessna Caravan dikerahkan untuk menarget awan sebelum mencapai kawasan Lumajang—wilayah yang ingin dijaga dari potensi hujan ekstrem.
“Selain efektivitas, aspek keselamatan penerbangan sangat kami perhatikan mengingat Semeru masih aktif,” kata Budi.
Baca Juga: Bandara IMIP Morowali Tanpa Petugas Bea Cukai? Begini Respons Tegas Purbaya dan TNI
Koordinasi BMKG–BNPB Semakin Solid
Direktur Tata Kelola Modifikasi Cuaca, Edison Kurniawan, menegaskan bahwa kerja sama BMKG dan BNPB berlangsung erat dalam misi mitigasi bencana ini.
BMKG secara aktif memberikan rekomendasi teknis setiap kali terdeteksi potensi cuaca berisiko.
Ia menekankan bahwa kecepatan dan ketepatan pelaksanaan OMC adalah kunci keberhasilan mencegah dampak lanjutan erupsi.
“Tim BMKG di lapangan selalu mendampingi BNPB agar setiap langkah sesuai tujuan awal OMC,” jelas Edison.
OMC yang digelar BMKG dan BNPB menjadi salah satu bentuk respons cepat pemerintah untuk meminimalkan risiko bencana pasca-erupsi Gunung Semeru.
Dengan intervensi cuaca yang terukur, harapannya potensi banjir lahar dingin dan kejadian cuaca ekstrem dapat ditekan semaksimal mungkin.
Upaya kolaboratif ini menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana, terutama di wilayah yang tengah beradaptasi dengan perubahan kondisi alam.***