Karena itu, konsep ketahanan berkelanjutan menjadi prioritas.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia kini mengembangkan kerangka kerja yang menyeimbangkan pembangunan SDM, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan lingkungan.
Baca Juga: Perdana, BRI Manajemen Investasi Catatkan KIK EBA Syariah Rp1,95 Triliun di BEI
BGN Sebut MBG Sebagai Pilar Generasi Emas 2045
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebelumnya juga menegaskan bahwa MBG adalah bentuk pemenuhan hak anak Indonesia.
Menurutnya, lebih dari separuh anak Indonesia kini sudah mendapatkan hak atas makanan bergizi melalui program ini, dan target penuh dikejar hingga akhir 2025.
“MBG adalah investasi terbesar SDM Indonesia menyambut Generasi Emas 2045,” ujar Dadan.
Dampak Ekonomi: Dari Anggaran Hingga Pemberdayaan Masyarakat
Dadan menjabarkan bahwa alokasi dana MBG mengalir langsung ke tingkat daerah.
Satu SPPG di Jawa mengelola sekitar Rp900 juta per bulan, sedangkan di Papua bisa mencapai Rp4 miliar.
Dari total anggaran itu:
- 85% dialokasikan untuk pembelian bahan baku, mayoritas dari sektor pertanian.
- 10,5% digunakan untuk upah para pekerja program, mulai dari ibu-ibu dapur, pekerja lapangan, hingga pengelola di SPPG.
“Program MBG itu identik dengan kemandirian pangan lokal,” tekan Dadan.***