TITIKTEMU.CO - Upaya pemulihan bagi para siswa korban ledakan di SMAN 72 Jakarta tidak hanya berfokus pada perawatan fisik, tetapi juga pendampingan psikologis. Hingga kini, sejumlah siswa masih mengalami trauma dan belum siap kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.
Sebagian Siswa Masih Takut Kembali Belajar di Sekolah
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa berdasarkan laporan terbaru, sebagian siswa masih merasakan ketakutan pasca insiden, sehingga belum siap kembali ke sekolah. Meski begitu, ada pula sebagian murid yang sudah menyatakan kesediaannya untuk kembali mengikuti pembelajaran langsung.
Mu’ti menyampaikan bahwa kesiapan mental siswa menjadi prioritas sebelum sekolah kembali beroperasi normal. Pendampingan psikologis masih terus dilakukan, bekerja sama dengan berbagai lembaga dan tenaga profesional.
Baca Juga: Operasi Zebra 2025 Resmi Dimulai: Ini 8 Pelanggaran yang Jadi Target Utama Lengkap Besaran Dendanya
Pendampingan Trauma Melibatkan Banyak Lembaga
Kepala SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, mengungkapkan bahwa proses trauma healing dilakukan bersama banyak pihak. Selain dukungan dari Kemendikdasmen, pendampingan juga melibatkan psikolog Angkatan Laut, Dinas PPAP, Kementerian Sosial, Dinas Kesehatan, hingga HIMPSI.
Tujuan pendampingan ini adalah membantu siswa memulihkan kondisi psikologis mereka agar dapat kembali belajar seperti sedia kala.
Muncul Permintaan Pindah Sekolah Akibat Trauma
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa dampak lain dari tragedi itu adalah banyaknya siswa yang mengajukan perpindahan sekolah. Rasa takut yang masih membekas membuat sejumlah siswa memilih mencari lingkungan belajar baru yang dirasa lebih aman.
Pemerintah provinsi kini tengah merumuskan langkah terbaik untuk menangani hal tersebut agar dampaknya tidak berkepanjangan.
Pembelajaran Sementara Dilakukan Secara Daring
Untuk menjaga keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, SMAN 72 Jakarta menerapkan pembelajaran jarak jauh selama sepekan terakhir. Skema tatap muka menunggu persetujuan dari orang tua sekaligus melihat kondisi psikologis siswa yang masih dalam masa pemulihan.