TITIKTEMU.CO - Bayangkan suatu hari, air hujan yang jatuh dari langit tidak lagi murni, tapi juga membawa partikel plastik mikroskopis.
Fenomena ini bukan lagi cerita fiksi ilmiah. Para ilmuwan menyebutnya hujan mikroplastik. Kini, polusi plastik telah menembus atmosfer, ikut berputar dalam siklus air, dan akhirnya turun kembali ke bumi bersama hujan.
Plastik yang selama ini mempermudah hidup manusia di berbagai aspek, kini membawa ancaman baru. Plastik sangat sulit terurai, limbahnya menumpuk di laut, tanah, dan sekarang udara.
Baca Juga: Hujan Mikroplastik: 18 Kota Indonesia Tercemar, Jakpus Paling Parah
Yang jarang disadari, plastik juga hadir dalam bentuk lebih halus, yaitu mikroplastik, partikel berukuran kurang dari 5 milimeter, serat pakaian sintetis, hingga debu ban kendaraan.
Seiring waktu, partikel ini menyebar luas, menembus udara, dan akhirnya ikut turun bersama hujan. Itulah yang kini disebut sebagai fenomena hujan mikroplastik.
Fenomena ini merujuk pada satu kondisi di mana air hujan yang turun dari langit mengandung partikel plastik yang tidak terlihat mata.
Hasil Penelitian BRIN
Fenomena ini bukan sekadar omon-omon atau omong kosong. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam air hujan di wilayah pesisir Jakarta.
Dalam sampel yang dikumpulkan selama 12 bulan, ditemukan antara 3 hingga 40 partikel mikroplastik per meter persegi setiap hari, di mana rata-rata sekitar 15 partikel.
“Bayangkan, kalau rumah Anda seluas 1.000 meter persegi, maka setiap hari bisa ada sekitar 15.000 partikel plastik yang jatuh ke dalamnya,” ujar peneliti BRIN Muhamad Reza Cordova.
Meski air hujan itu sendiri tidak berbahaya, tapi partikel mikroplastik yang beterbangan di udara dan terhirup manusia bisa mengancam sistem pernapasan. Itulah sisi bahaya yang belum banyak disadari publik.
Baca Juga: Waspadai Produk Sumber Mikroplastik yang Berbahaya Bagi Kesehatan
Bagaimana Mikroplastik Bisa Turun dari Langit?