Ia bahkan mencontohkan Kabupaten Lahat yang berhasil menghemat hingga Rp425 miliar hanya dengan memangkas belanja birokrasi dan mengalihkannya ke program nyata bagi warga.
“Artinya bisa. Tinggal niat dan keberanian untuk berubah,” tambahnya.
Belajar dari Krisis: Efisiensi Bukan Hal Baru
Tito juga mengingatkan bahwa efisiensi bukan konsep asing.
Saat pandemi COVID-19, seluruh daerah sempat menghadapi kondisi serupa—pendapatan menurun drastis, anggaran dipotong, tapi roda pemerintahan tetap berputar.
“Kita semua pernah ngalamin. Pendapatan turun, semua dirasionalisasi, tapi toh kita bisa survive,” kenangnya.
Dari Keluhan ke Keteladanan
Pesan Tito sederhana tapi tajam: berhenti mengeluh soal dana, mulai berpikir soal efektivitas.
Karena sejatinya, kekuatan daerah tidak hanya di jumlah anggarannya, tapi di cara mereka mengelolanya.
Kalau dulu banyak daerah sibuk mencari siapa yang salah, kini waktunya mencari apa yang bisa diperbaiki.
Karena pada akhirnya, uang memang penting — tapi akal sehat dalam menggunakannya jauh lebih berharga.***