Menurut laporan yang diterimanya, cuaca ekstrem menjadi faktor utama.
“Kami mendapat laporan bahwa angin kencang dan hujan lebat memicu kerusakan. Di Ponorogo juga ada rumah yang atapnya rusak karena hal serupa,” tambahnya.
Baca Juga: Heboh Pertalite Bikin Motor Brebet: Salah BBM atau Ada Masalah Lain? Begini Respons Pemerintah!
Polisi dan BPBD Turun Tangan
Kapolsek Besuki, AKP Febry Hermawan, memastikan timnya bersama BPBD langsung mengevakuasi korban sesaat setelah kejadian.
Olah TKP dilakukan untuk mencari tahu penyebab pasti runtuhnya atap.
“Peristiwa terjadi sekitar pukul 01.00 WIB, dengan total 19 korban. Satu di antaranya meninggal dunia,” ujar Febry.
Dugaan sementara, struktur atap tidak mampu menahan tekanan akibat hujan deras dan angin kencang.
Saat ini, kasus telah ditangani lebih lanjut oleh Polres Situbondo.
Saat Langit Mengingatkan: Pelajaran dari Dua Tragedi
Korban jiwa dalam peristiwa ini diketahui berasal dari Dusun Rawan Desa, Kecamatan Besuki, Situbondo.
Tim Inafis Polres Situbondo masih terus bekerja di lokasi, memeriksa kondisi fisik bangunan dan kemungkinan kelalaian teknis.
Tragedi Situbondo ini menjadi pengingat keras tentang pentingnya pemeriksaan rutin bangunan pesantren dan fasilitas pendidikan lainnya.
Di tengah perubahan iklim yang makin tak menentu, keselamatan fisik bangunan harus menjadi prioritas, bukan sekadar formalitas izin.