TITIKTEMU.CO - Di tengah sorotan publik terhadap kondisi ekonomi nasional, muncul satu nama yang tiba-tiba mencuri perhatian warganet: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena gaya komunikasinya yang keras, blak-blakan, dan ceplas-ceplos sehingga dijuluki banyak orang sebagai gaya koboi.
Tak butuh waktu lama, cuplikan pernyataannya beredar cepat di media sosial dan memicu fenomena baru: “Purbaya Everywhere”.
Namun, viral bukan berarti tanpa konsekuensi. Popularitas mendadak ini menimbulkan dua reaksi publik: sebagian menganggapnya sebagai simbol pejabat yang berani dan apa adanya, sementara sebagian lainnya melihatnya hanya sebagai kemasan komunikasi yang menutupi persoalan ekonomi yang lebih substansial.
Baca Juga: Fenomena ‘Healing on Budget’: Gaya Hidup Anti Stres di Tengah Dompet Tipis
Jaket 8 Persen dan Pesan Optimisme
Sebelumnya, Purbaya sempat tampil mengenakan jaket biru tua dengan angka “8%” terpampang jelas di bagian dada. Angka itu bukan sekadar simbol, tetapi target pertumbuhan ekonomi nasional yang ia gaungkan.
Dengan santai, ia menyebut jaket tersebut merupakan hadiah langsung dari Istana Presiden, memperlihatkan kedekatannya dengan arus kekuasaan.
Namun, langkah ini juga memicu perdebatan.
Apakah target pertumbuhan ekonomi 8 persen realistis atau sekadar jargon politik untuk memompa optimisme publik?
Narasi Optimisme Pemerintah
Menurut Purbaya, kondisi ekonomi Indonesia masih berada di jalur yang positif.
Ia menyebut pertumbuhan konsumsi masyarakat pada kuartal IV 2025 diperkirakan menembus 5,5 persen, meningkat dibanding kuartal II yang hanya mencapai 5,12 persen. Ia pun menegaskan salah satu pemicunya adalah kebijakan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di bank-bank Himbara untuk menggerakkan likuiditas ekonomi.