“Sekarang Purbaya ramai disebut dengan gaya koboi, tapi saya tidak peduli soal gayanya,” ujarnya.
“Yang penting, kebijakannya apa? Pemindahan dana ke Himbara itu administratif, bukan strategi fiskal yang nyata,” tegasnya.
Antara Citra dan Substansi
Fenomena Purbaya menjadi cerminan dilema klasik pejabat publik: antara membangun citra dan menjaga substansi kebijakan.
Meski gaya komunikasinya menuai pujian dan kritik sekaligus, publik tetap menunggu bukti konkret dari kebijakan fiskal yang dijalankan di bawah kepemimpinannya apakah benar-benar mampu membawa ekonomi Indonesia menuju pertumbuhan 8 persen, atau sekadar narasi optimisme belaka.***