Sepanjang November 2024 hingga 15 Oktober 2025, penipuan online mencatat 53.928 kasus dengan kerugian mencapai Rp988 miliar.
Tidak berhenti di situ, penipuan mengatasnamakan lembaga resmi atau fake call mencapai 31.298 kasus dengan kerugian Rp1,31 triliun, disusul penipuan investasi bodong mencapai 19.850 kasus dan mengakibatkan kerugian Rp1,09 triliun.
Indonesia Jadi "Juara Dunia" Laporan Penipuan Digital
Dalam hal scam digital, Indonesia kini menduduki peringkat tertinggi di dunia—prestasi yang tentu saja ironis dan mengkhawatirkan.
Tercatat 274.722 laporan penipuan digital diterima sepanjang November 2024 hingga September 2025, atau rata-rata 874 laporan per hari.
Perbandingannya benar-benar kontras:
- Malaysia: 253.553 laporan
- Kanada: 138.197 laporan
- Hong Kong: 65.240 laporan
- Singapura: 51.501 laporan
Menariknya, kasus di Indonesia memang paling banyak, namun kerugian terbesar justru tercatat di Hong Kong yang mencapai Rp27,01 triliun.
Malaysia mencatat kerugian Rp2,65 triliun, dan Indonesia menyusul dengan total kerugian Rp7 triliun.
Modus Baru: Penipuan Pakai AI Bikin Orang Mudah Tertipu
Kabar yang lebih mengkhawatirkan datang dari perkembangan modus terbaru.
Para pelaku kini memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membuat aksi tipu-tipu semakin sulit dideteksi.
Bentuknya mulai dari deepfake wajah hingga suara palsu yang sangat meyakinkan.
> "Pelaku berpura-pura menjadi orang yang dikenal korban, seperti keluarga atau atasan.Mereka kirim video atau voice note AI agar korban percaya," jelas Friderica.
Artinya, kejahatan online kini semakin rapi, canggih, dan sulit ditebak.