Menkes Budi menilai masalah gizi masih menjadi akar dari beragam persoalan kesehatan di Indonesia. Ia menyebut gizi kurang hanya berdampak pada stunting, tetapi juga berhubungan dengan tingginya kasus tuberkulosis (TBC), infeksi, hingga kematian ibu dan bayi.
Oleh karena itu, keterlibatan Kemenkes dalam program ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi kesehatan masyarakat sejak usia dini.
Pemberian makanan dengan gizi seimbang dianggap dapat meningkatkan imunitas anak, memperbaiki kualitas tumbuh kembang, serta menekan risiko penyakit di masa depan.
Baca Juga: Antusias! Ribuan Penggemar Apple Serbu Early Pick Up iPhone Terbaru di Blibli
Komitmen Benjamin untuk Kawal Program
Dalam kesempatan yang sama, Wamenkes Benjamin memastikan dirinya siap menjalankan amanah yang diberikan.
Ia menekankan bahwa tugas utamanya adalah mengawal program agar berjalan tanpa hambatan dan memastikan segala potensi kasus luar biasa (KLB) dapat dicegah sejak dini.
Benjamin juga meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap isu-isu negatif terkait pelaksanaan program tersebut.
Ia menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan pengawasan ketat dan perbaikan berkelanjutan selama program digulirkan.
Ia menyampaikan optimismenya bahwa jika seluruh elemen pemerintah bergerak bersama, program Makan Bergizi Gratis akan membawa perubahan besar pada kondisi kesehatan nasional dan masa depan generasi Indonesia.***