TITIKTEMU.CO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan. Kali ini, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mempertanyakan kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait penggunaan ultra processed food (UPF) dalam menu yang disajikan kepada anak-anak sekolah.
UPF sendiri dikenal sebagai makanan hasil olahan industri dengan proses panjang, seperti mie instan, nugget, sosis, burger, hingga sereal. Kehadiran menu ini dalam distribusi MBG sempat ramai dikritik oleh para ahli gizi setelah beredar luas di media sosial.
Beda Pernyataan BGN Soal UPF
Dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI, Rabu (1/10/2025), Charles menyoroti adanya perbedaan pernyataan dari pihak BGN.
Baca Juga: Gempa Dahsyat 6,9 SR Guncang Filipina: 69 Tewas, Ratusan Luka, Bangunan Bersejarah Runtuh
“Minggu lalu saya sempat mendengar Ibu Nanik menyatakan bahwa UPF akan dilarang disajikan untuk anak-anak. Tapi kemudian keluar lagi surat dari Deputi BGN, Tigor Pangaribuan, yang menyebutkan produk UPF tetap boleh digunakan asal mengutamakan produksi lokal,” ungkap Charles.
Ia menegaskan, pernyataan tersebut membingungkan dan berpotensi menimbulkan kesan tidak konsisten. Menurutnya, yang dibutuhkan adalah komitmen tegas BGN untuk menghapus UPF sepenuhnya dari menu MBG.
DPR Desak BGN Konsultasi dengan BPOM dan Kemenkes
Charles menilai penggunaan UPF tidak sejalan dengan tujuan MBG karena mengandung kadar gula, garam, dan lemak yang tinggi.
“BGN sebaiknya berkonsultasi dengan BPOM dan Kementerian Kesehatan yang sudah memiliki standar gizi dan makanan untuk anak-anak,” sarannya.
Wakil Kepala BGN: Fokus ke UMKM Lokal
Menanggapi kritik tersebut, Wakil Kepala BGN, Nanik, menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi penggunaan produk pabrikan dalam dapur MBG.
“Dapur MBG adalah untuk membangkitkan ekonomi lokal, bukan memperkaya pemilik pabrik roti,” tegasnya saat konferensi pers di Jakarta, 26 September 2025.