Subsidi sebagai Instrumen Pasar
Menurut Purbaya, subsidi dan kompensasi tetap menjadi instrumen vital untuk mengatasi ketidaksempurnaan pasar.
Baca Juga: Penutupan Dapur MBG Panakkukang 02 Makassar: Puluhan Pekerja dan Ratusan Siswa Terdampak
“Tidak semua masyarakat bisa merasakan pertumbuhan ekonomi secara merata. Subsidi menjembatani kesenjangan itu,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan agar subsidi tidak salah sasaran karena justru bisa memperburuk kondisi perekonomian.
Sidak Mendadak ke Bank BUMN
Selain soal tunggakan, Purbaya juga memperlihatkan gaya kepemimpinannya yang baru dengan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke bank-bank pelat merah.
Usai rapat dengan DPR, Purbaya mengungkapkan dirinya sempat mengunjungi Bank Negara Indonesia (BNI) pada Senin, 29 September 2025.
“Saya akan keliling secara acak, biar mereka kapok. Bank-bank lain juga akan saya cek,” ujarnya.
Ada dua fokus utama dalam sidak ini:
- Memastikan dana Rp200 triliun yang ditempatkan pemerintah di bank BUMN benar-benar disalurkan untuk kredit produktif.
- Mencegah dana tersebut dipakai untuk menimbun dolar AS yang bisa melemahkan rupiah.
“Yang jelas saya akan pastikan tidak ada praktik yang mengganggu stabilitas nilai tukar. Sejauh ini mereka comply, cukup baik,” tegas Purbaya.
Penempatan Dana Rp200 Triliun
Sebagai informasi, penempatan dana pemerintah di bank Himbara diatur dalam Keputusan Menkeu Nomor 276 Tahun 2025.
Sejak 12 September 2025, pemerintah memindahkan dana sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke lima bank BUMN, dengan rincian: