nasional

Kasus Keracunan Massal MBG Kian Meluas, Pakar IDAI Usul Hidupkan Kantin Sekolah agar Aman dan Segar

Jumat, 26 September 2025 | 16:59 WIB
Menyoroti kasus keracunan massal yang dialami para siswa yang diduga imbas menu MBG tak layak di sekolah. (Instagram.com/@badangizinasional.ri)

TITIKTEMU.CO – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai sorotan tajam setelah kasus keracunan massal siswa sekolah mencuat di berbagai daerah. Hingga Kamis, 26 September 2025, tercatat lebih dari 5.000 siswa menjadi korban hingga status Kejadian Luar Biasa (KLB) ditetapkan sejumlah otoritas kesehatan.

Ironisnya, makanan yang seharusnya meningkatkan gizi anak justru berubah menjadi ancaman serius bagi kesehatan.

Tak hanya memunculkan korban, program MBG juga dinilai memicu dampak sosial. Keberadaan dapur massal penyedia MBG membuat kantin sekolah semakin sepi, bahkan sebagian terancam bangkrut karena siswa diarahkan untuk mengonsumsi makanan gratis.

Baca Juga: Yamaha Kembali Hadirkan Program Miliarder di IMOS 2025, Ibu Rumah Tangga Asal Poso Raih Hadiah Rp1 Miliar

Sejumlah laporan mengungkapkan, makanan MBG banyak yang dimasak sejak malam hari, lalu baru dikonsumsi siswa pada siang esoknya. Proses panjang ini membuka peluang besar bagi pertumbuhan bakteri, terutama bila standar operasional prosedur (SOP) tidak ditegakkan secara ketat.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh mengabaikan aspek keamanan pangan. Menurutnya, kantin sekolah justru bisa menjadi solusi agar makanan lebih segar, higienis, dan praktis.

“Kenapa tidak menghidupkan kantin sekolah yang sudah ada? Makanan bisa langsung hangat saat disantap, lebih aman bagi anak-anak,” ujarnya dalam webinar resmi IDAI, Kamis, 25 September 2025.

Baca Juga: Heboh Kabar Permintaan Merepotkan saat Kunjungan ke Daerah, Menpar Widiyanti Beri Klarifikasi Begini

dr. Piprim menambahkan, semakin lama jeda antara proses masak dan konsumsi, risiko kontaminasi semakin tinggi. Hal ini ditegaskan juga oleh dr. Yogi Prawira, Sp.A(K), Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI.

Menurut dr. Yogi, makanan matang tidak boleh dibiarkan lebih dari 4 jam pada suhu ruang. Bila lebih lama, bakteri berbahaya dapat berkembang cepat. Ia juga menekankan pentingnya suhu masak sesuai standar internasional:

  • Daging sapi: minimal 71°C
  • Daging ayam: minimal 74°C
  • Ikan: minimal 63°C
  • Telur: wajib matang sempurna

Selain itu, kontaminasi juga bisa muncul dari tangan pekerja atau alat dapur yang tidak steril.

Baca Juga: Mediapreneur Talks 2025 di Surabaya: Promedia Dorong Kolaborasi Jurnalis dan Pengusaha Media di Era Digital

Badan Gizi Nasional (BGN) mengakui adanya pelanggaran SOP dalam kasus Cipongkor, Bandung Barat. Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, mengungkapkan dua dapur penyedia MBG ditutup karena makanan disiapkan jauh sebelum waktu konsumsi.

“Dari makanan dimasak hingga matang, maksimal 6 jam harus sudah disantap,” tegas Nanik dalam konferensi pers di Bogor, Kamis, 25 September 2025.

Halaman:

Tags

Terkini